Tampilkan postingan dengan label BLTA Berlian Laju Tanker Tbk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BLTA Berlian Laju Tanker Tbk. Tampilkan semua postingan
06.48

BLTA Berlian Laju Tanker Tbk,

Berlian Laju Tanker siap modifikasi kapal lepas pantai



JAKARTA: PT Berlian Laju Tanker berencana memodifikasi empat unit kapal aframax menjadi armada floating storage and offloading (FSO) dan floating production storage and offloading (FPSO) pada tahun depan.

Direktur Utama PT Berlian Laju Tanker Widihardja Widjaja mengatakan kapal-kapal itu akan dioperasikan di Indonesia dengan berbendera Merah Putih, guna mendukung penerapan asas cabotage di sektor angkutan off shore (lepas pantai) paling lambat 1 Januari 2011.

Menurut dia, perseroannya telah menyiapkan empat unit kapal jenis aframax yang akan dikonversi menjadi armada FSO dan FPSO dalam rangka menghadapi tender yang akan dibuka pada 2010.

"Ada empat kapal aframax yang siap dikonversi menjadi armada FSO dan FPSO pada 2010 jika memang tender pengadaan benar-benar dibuka pada tahun depan," katanya kepada Bisnis pekan ini.

Dia menjelaskan dari empat kapal itu, tiga di antaranya sudah berganti bendera dari asing ke dalam negeri guna memenuhi asas cabotage, sedangkan satu kapal sedang dalam proses. "Intinya kalau tender dibuka, kami sudah siapkan armadanya."

Sebanyak lima perusahaan pelayaran nasional diperkirakan akan bersaing ketat dalam tender proyek pengadaan lima unit kapal jenis FSO dan FPSO yang akan digelar pada tahun depan.

Kelima perusahaan nasional itu yakni PT Berlian Laju Tanker, PT Trada Maritim, PT Apexindo Pratama, PT Armada Pelayaran Nasional Indonesia (Arpeni), dan PT Era Indoasia Fortune.

Dari lima perusahaan itu, PT Berlian Laju Tanker, PT Trada Maritim, PT Apexindo Pratama, dan PT Arpeni tercatat sebagai penyedia jasa layanan kapal lepas pantai lama dan bermodal besar, sedangkan PT Era Indoasia Fortune merupakan pemain baru.

Widihardja mengakui telah mendengar akan dibukanya tender pengadaan lima unit kapal FSO da FPSO pada 2010, tetapi belum bisa dipastikan apakah tender itu benar-benar akan terlaksana.

Dia menyarankan tender dibuka lebih cepat mengingat proses pengadaan armada jenis itu memerlukan waktu yang relatif lama. "Seharusnya akhir tahun ini sudah digelar, tetapi paling tidak awal 2010 sudah dibuka," katanya.

Berdasarkan Data Departemen Perhubungan, jumlah armada FSO dan FPSO yang kontraknya berakhir pada 2010 sebanyak enam unit. Keenam kapal itu yakni FSO Cinta Natomas, FSO Ladinda, FSO Raisis, FSO Madura Jaya, FPSO Gas Concord, dan LPG Petro Star.

BP Migas sebelumnya telah memberikan rambu-rambu kepada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) terkait dengan implementasi asas cabotage (komoditas domestik wajib diangkut oleh kapal berbendera Indonesia) di sektor angkutan lepas pantai.

Hingga Juli 2009, jumlah kapal yang beroperasi untuk semua kegiatan hulu migas di Indonesia sebanyak 613 unit dengan 541 di antaranya telah menggunakan bendera Merah Putih dan sisanya masih berbendera asing.

07.12

BLTA Berlian Laju Tanker Tbk,

BLTA Akan Bungkus Perusahaan Kapal Norwegia

JAKARTA. PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) semakin ekspansif. Perusahaan pelayaran ini akan membeli perusahaan perkapalan Norwegia, Camillo Eitzen & Co ASA (CECO) yang tercatat di bursa Oslo, Norwegia.BLTA berniat melakukan voluntary exchange offer terhadap seluruh saham CECO, seharga NOK 25 per saham atau setara US$ 4,32 per saham (kurs US$ 1=NOK 5,786). Per Juni 2009, total saham CECO yang beredar mencapai 40,266 juta saham. Dus, jika semua pemegang saham CECO menerima tawaran BLTA, berarti harga akuisisi CECO sekitar US$ 173,95 juta.BLTA akan membayar pembelian saham CECO itu mandatory exchangeable bond atau obligasi wajib tukar. Setelah obligasi ini ditukar dengan saham, jika dihitung, BLTA akan membayar setiap saham CECO dengan 49,13 saham BLTA. Jadi, untuk menukarkan seluruh saham CECO dengan perbandingan 1:49,13, BLTA perlu menerbitkan sekitar 1,978 miliar saham baru.Direktur BLTA Kevin Wong berharap bisa menggelar penawaran pembelian saham CECO pada pertengahan hingga akhir November 2009. "Adapun pelaksanaan konversi saham akan berlangsung sekitar Juli 2010," tulis Kevin kepada otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin (5/10).Penawaran ini akan mengikuti beberapa kondisi. Sebagai contoh, 95% pemegang saham CECO menyetujui penawaran BLTA.Kondisi lainnya, BLTA harus puas dengan hasil uji tuntas atas CECO dan anak perusahaannya. BLTA juga harus mendapat izin private placement saham baru senilai US$ 200 juta untuk menukar obligasi konversinya.Taruh kata, BLTA mendapat izin private placement 1,978 miliar saham baru senilai US$ 200 juta. Hitung punya hitung, harga saham baru BLTA sekitar Rp 1.011 per saham.Menurut data RTI, saat ini total saham BLTA mencapai 5,98 miliar saham. Berdasarkan patokan ini, maka private placement saham BLTA bisa mencapai 33% dari total saham BLTA saat ini.
Masuk bursa Norwegia
Jika akuisisi ini berlangsung sukses, BLTA juga berniat melakukan secondary listing saham BLTA di bursa saham Oslo (Oslo Bors) Norwegia. Keputusan ini bertujuan untuk memastikan likuiditas bagi para pemegang saham CECO.Dus, nanti BLTA akan melantai di tiga bursa saham, yakni di Bursa Efek Indonesia, Bursa Saham Singapura dan Bursa Saham Norwegia.Analis Bhakti Securities Reza Nugraha mengatakan, aksi korporasi BLTA ini membuat pangsa pasar mereka makin besar. Apalagi Norwegia merupakan salah satu negara yang memiliki perusahaan perkapalan cukup besar. Dari sisi aset, kedua perusahaan pelayaran berbeda negara ini juga tidak terlalu berbeda jauh. Ia masih merekomendasikan beli saham BLTA, dengan target harga Rp 950 per saham. "Ini belum memasukkan akuisisi CECO," imbuhnya. Pada penutupan bursa kemarin, harga saham BLTA melemah 1,2% menjadi Rp 820 per saham.

06.40

BLTA Berlian Laju Tanker Tbk,

BLTA-CECO Bergabung Akan Hasilkan USD2,3 M
Senin, 5 Oktober 2009 - 10:42 wib

JAKARTA - PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) berencana melakukan penawaran (voluntary exchange offer) terhadap seluruh saham yang sudah diterbitkan dari Camillo Eitzen & Co ASA (CECO).

Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Pengembangan Usaha BLTA Siana Anggraeni Surya, dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (5/10/2009).

Penawaran yang diajukan adalah sebesar NOK 25 untuk setiap lembar saham CECO, dibayarkan dalam bentuk saham BLTA yang merepresentasikan premium sebesar 270 persen dari harga saham CECO pada saat pasar tutup pada 2 Oktober 2009.

"Kami excited dengan prospek industri yang akan didapatkan dari kombinasi antara CECO dan BLTA ini. Transaksi dengan CECO ini memiliki jaringan pelayaran yang ekstensif dan basis pelanggan yang mengglobal adalah bagian dari strategi BLTA untuk ekspansi ke seluruh daerah di dunia. Ini akan semakin meningkatkan rute perdagangan dunia kami, memperkuat kehadiran strategis kami pada segmen kapal tanker kimia dan gas dan sekaligus mendiversifikasikan usaha ke dalam segmen curah kering dan jasa maritime," tukas Siana.

Direksi CECO dan para pemegang saham utama yang merepresentasikan sekira 76 persen dari total saham yang diterbitkan telah menyatakan dukungannya atas penawaran indikatif tidak mengikat yang telah mereka terima. Direksi CECO dan Axel C Eitzen sebagai pemegang saham utama pun telah menandatangani perjanjian ekslusif dengan BLTA.

Transaksi yang diajukan tersebut juga didukung oleh agen sindikasi bank Nordea. Pemegang saham utama BLTA (PT Tunggaladhi Baskara) dengan porsi kepemilikan sekira 59 persen hak suara yang dapat memilih, mendukung penuh transaksi tersebut.

Berdasarkan penawaran ini, CECO akan berpartisipasi pada penawaran ekuitas Eitzen Chemical ASA (ECHEM) dengan saham prorata. Perseroan akan mencoba untuk mencatatkan sahamnya pada Oslo Stock Exchange.

Penawaran ini akan menggabungkan dua kekuatan besar dalam tradisi kemaritiman dan menciptakan grup pelayaran internasional terkemuka di dunia dalam segmen kimia, gas, minyak, curah kering dan segmen jasa maritim. Grup ini akan menjadi armada kapal tanker kimia terbesar di dunia dengan armada yang paling modern.

Gabungan kedua perusahaan akan berada dalam posisi yang sangat tepat untuk dapat mengambil kesempatan dari pemulihan industri perkapalan yang didorong oleh peningkatan produksi industri dan jalur perdagangan internasional.

Penggabungan kedua perusahaan ini juga akan mampu menyediakan pelanggan lama dan baru dengan solusi transportasi kelas dunia dengan cakupan wilayah operasional global dan keberadaan lokal, termasuk akses ke dalam pasar domestik Indonesia dan semakin memantapkan kehadiran di kawasan Asia.

Total pendapatan dari penggabungan kedua perusahaan dari 12 bulan terakhir akan mencapai sekira USD2,3 miliar dengan EBITDA sebesar USD499 juta.

Apabila digabungkan dengan kapal yang sedang dibangun, grup ini akan memiliki dan mengoperasikan 157 kapal tanker kimia, 14 kapal tanker minyak, 42 kapal tanker gas, 50-60 kapal angkutan curah kering dan satu FPSO, selain jasa maritim yang diberikan melalui Eitzen Maritime Services (EMS).

Kombinasi dari kedua entitas tersebut akan menciptakan sebuah jaringan global yang solid dan mampu untuk melayani pelanggan berbasis internasional di seluruh pasar utama.

Selain bisnis yang akan saling melengkapi, kedua perusahaan juga berbagi nilai-nilai yang sama dan kepercayaan akan pentingnya budaya perusahaan yang kuat dan pengembangan atas sumber daya manusia di dalam organisasi. Kedua perusahaan sepakat untuk terus membangun dari kekuatan bersama ini melangkah maju menuju masa depan.

Chairman CECO Axel C Eitzen akan tetap menjalankan peran aktif dalam perkembangan grup di masa depan dan akan menjadi pemegang saham terbesar kedua di dalam grup tersebut.

Penawaran ini akan memberikan sebuah kesempatan kepada para pemegang saham BLTA dan CECO untuk mengambil bagian di dalam sebuah perusahaan besar, global, dan terdiversifikasi dengan baik serta dilengkapi dengan fleksibilitas finansial, potensi pasar yang sangat kuat, dan mampu memberikan likuiditas kepada para pemegang saham.

05.56

BLTA Berlian Laju Tanker Tbk,



JAKARTA. PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 420 juta-US$ 430 juta pada tahun depan. BLTA akan menggunakan dana itu untuk membangun kapal baru selama periode 2010-2012.

Hubungan Investor BLTA, Peter Chayson mengemukakan, selama tiga tahun ke depan, BLTA akan membangun sedikitnya 13 unit kapal. Perinciannya, sembilan kapal untuk mengangkut kimia (chemical tankers) dan empat kapal untuk mengangkut gas (gas carriers). Kapasitas angkut masing-masing kapal adalah 18.000-20.000 metrik ton.

"Tahun 2010, kami akan membangun lima unit kapal, selebihnya delapan kapal lagi akan dibangun tahun 2011 dan 2012," tutur Chayson kepada KONTAN, Kamis (24/9).

Untuk memenuhi pendanaan capex 2010-2012, BLTA akan menggunakan kas internal dan pinjaman perbankan. Sayang, manajemen BLTA belum bersedia menyebutkan berapa porsi kas internal dan pinjaman perbankan dalam mengisi capex selama tiga tahun itu. Menurut Chayson, saat ini, BLTA sedang menjajaki pinjaman sekitar 3-4 bank asing dan lokal.

Kini, BLTA sudah memiliki 91 unit kapal. Armada-armada itu meliputi kapal angkut minyak, gas, dan kimia. Dengan membangun 13 unit kapal baru, nantinya, BLTA akan memiliki 104 unit kapal.

Chayson menjelaskan, selain untuk kebutuhan ekspansi, pembangunan 13 kapal baru itu untuk menghadapi penerapan asas cabotage, atau kewajiban kapal angkut berbendera Indonesia mulai 2010 mendatang.

Saat ini, dari 91 kapal yang dimiliki BLTA, baru 10 unit diantaranya yang berbendera Indonesia. Apalagi, pelayaran domestik selama ini hanya menyumbang 8% dari total pendapatan BLTA.

Karenanya, kata Chayson, tidak tertutup kemungkinan sebagian kapal baru BLTA akan berbendera Indonesia. "Kami memang memerlukan kapal berbendera Indonesia untuk menghadapi asas cabotage," kata dia.

08.02

BLTA Berlian Laju Tanker Tbk,

Laba Berlian Tanker merosot 91%
Total aset perseroan naik menjadi US$2,43 milyar

JAKARTA: Laba bersih PT Berlian Laju Tanker Tbk pada semester I/2009 mencapai US$9,62 juta atau merosot hingga 91% dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun lalu yaitu US$107,09 juta.

Memburuknya kinerja perseroan pada semester I/2009 disebabkan oleh lonjakan utang perseroan yang jatuh tempo dalam 1 tahun yaitu US$255,36 juta dibandingkan dengan periode yang sama pada 2008, yaitu US$151,51 juta.

Presiden Direktur Berlian Tanker Widihardja Tanudjaja mengatakan anjloknya laba bersih perseroan itu disebabkan oleh turunnya pendapatan perseroan akibat menurunnya volume perdagangan dunia.

Pendapatan perseroan per 30 Juni 2009 turun 12,5% menjadi US$305,66 juta dibandingkan dengan pendapatan per 30 Juni 2008, yaitu US$349,41 juta.

Laba usaha perseroan anjlok 33% menjadi US$69,37 juta dalam 6 bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan US$103,49 juta pada periode yang sama tahun lalu.

"Turunnya kinerja keuangan perseroan pada semester I/2009 itu merupakan realitas yang terjadi pada industri pelayaran di seluruh dunia terkait dengan turunnya permintaan pengiriman barang," ujarnya, kepada Bisnis, kemarin.

Analis PT BNI Securities M. Alfatih menilai anjloknya laba bersih Berlian Tanker dipengaruhi oleh lonjakan utang perseroan yang jatuh tempo 1 tahun.

Selain itu, hedging yang tidak tepat sasaran juga ikut menyebabkan merosotnya kinerja perseroan.

Itu [perolehan laba bersih] bukan hanya diakibatkan oleh turunnya pendapatan perseroan.

"Hedging yang tidak tepat sasaran kemungkinan memengaruhi kinerja keuangan perseroan," ujarnya kemarin.

Terkait dengan utang perseroan, dia menuturkan sebaiknya manajemen menempuh opsi restrukturisasi berupa perpanjangan jatuh tempo utang senilai US$255,36 juta.

"Selanjutnya, perseroan dapat menggenjot pendapatannya melalui optimalisasi asas cabotage," ujar Alfatih.

Asas cabotage adalah peraturan bagi kapal angkutan minyak dan gas (migas) untuk berbendera Indonesia per 1 Januari 2010 berdasarkan Inpres No.5/2005, PP No.4/2005 dan UU No.17/2008.

Widihardja mengatakan pada masa yang akan datang perseroan berencana menggenjot pendapatan melalui optimalisasi angkutan carter, sewa dan penekanan biaya siluman pada sektor transportasi dan logistik.

Total utang


Berdasarkan neraca konsolidasi Berlian Tanker per 30 Juni 2009 disebutkan bahwa perseroan menanggung kewajiban lancar berupa utang yang jatuh tempo dalam 1 tahun senilai US$255,36 juta dari total kewajiban lancar US$413,51 juta.

Perinciannya yaitu utang bank mencapai US$130,11 juta, kewajiban sewa pembiayaan senilai US$32,95 juta, obligasi US$5,80 juta, utang lain jangka panjang US$1,18 juta dan obligasi konversi US$85,31 juta.

Selain itu, kewajiban berupa instrumen derivatif menjadi US$16,93 juta pada semester I/2009 melonjak dibandingkan dengan kewajiban pada periode yang sama 2008 yaitu US$414.000.

Perseroan membukukan kewajiban tidak lancar senilai US$1,43 miliar atau naik dibandingkan dengan semester I/2008, yaitu US$1,34 miliar.

Adapun, jumlah aset Berlian Tanker naik tipis menjadi US$2,43 miliar dibandingkan dengan aset per 30 Juni 2008, yaitu US$2,42 miliar.

Pada perdagangan 14 Agustus 2009, harga saham emiten berkode BLTA ini ditutup pada level Rp810 atau turun 2,41% dibandingkan dengan penutupan perdagangan 13 Agustus 2009, yaitu Rp830. (sylviana.pravita@bisnis.co.id)

06.19

Berlian Laju Tanker's Theoritical Price IDR789 per Share

Thursday, 9 July 2009 11:19:44StockWatch (Jakarta) -

The Indonesia Stock Exchange (IDX) has set the theoritical price of PT Berlian Laju Tanker Tbk's shares (BLTA) at IDR789 per unit, IDX acting head of stock trading division, Andre Toelle, said in an announcement today.He said IDX has set the theoritical price as Berlian Laju Tanker has planned to hold a rights issue with ratio of 3:1 in a bid to raise IDR591.731 billion. He said the theoritical price has been decided after calculating the 3:1 rights issue at offering price of IDR425 per share.According to him,

Berlian Laju Tanker's share price by the end of the cum rights issue date in the regular market on July 7, 2009, was IDR910 per share, so IDX has set the theoritical price at IDR788.75 per share for reference of trading, and finally has rounded up the price to IDR789 per share.

23.37

BLTA Berlian Laju Tanker Tbk



JAKARTA. PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) seperti mendapat rezeki nomplok. Perusahaan tanker ini berhasil meraih kontrak pengangkutan gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) Tangguh dari BP Tangguh. Masa kontrak itu berlaku selama 20 tahun.

Kemarin (6/7), kapal pertama BLTA berlayar dari Tangguh menuju Korea Selatan. Berkat berita itu, harga saham BLTA pun melesat. Bahkan kemarin, harga saham BLTA naik ke titik tertinggi sepanjang tahun ini, yakni Rp 960 per saham.

Perusahaan perkapalan terbesar di Indonesia ini akan menggunakan dua unit tanker berkapasitas 155.000 kaki kubik gas (cubic feet of gas) untuk memenuhi kontrak Tangguh. BLTA meneken dua buah kontrak. Yang pertama pada Desember 2008, sementara kontrak kedua Mei 2009.

Analis Bhakti Capital Securities Reza Nugraha bilang, kontrak ini menguntungkan kedua belah pihak. Bagi BP Tangguh, kontrak dengan perusahaan pengangkutan berbendera Indonesia saat ini lebih hemat daripada menunggu asas cabotage berlaku. Sebab saat itu, tarif penyewaan kapal Indonesia pasti naik.

Bagi BLTA, kontrak ini jelas mempertebal kantongnya. "Kontrak ini akan memberi kepastian pendapatan jangka panjang," kata Reza, kemarin.

Namun, Kepala Riset Financorporindo Nusadana Edwin Sebayang berpendapat, kontribusi kontrak LNG Tangguh tidak terlalu berpengaruh ke pendapatan BLTA. "Kontribusi kontrak itu hanya 5% tahun ini," kata Edwin. Alasannya, hingga kini BLTA memiliki satu kapal LNG. Sedang 87 unit kapal BLTA lainnya merupakan tanker bahan kimia dan minyak bumi.

Menambah armada

Namun secara umum, sentimen positif masih bertiup ke BLTA serta perusahaan pelayaran lokal. Maklum, tahun depan asas cabotage mulai berlaku. Asas cabotage mewajibkan penggunaan maskapai pelayaran lokal bagi pengangkutan domestik.

Guna menyambut asas itu, BLTA akan menambah 14 unit kapal baru selama periode 2009-2014. Total kebutuhan dananya US$ 450 juta.

Sebagai permulaan, tahun ini BLTA mendatangkan empat kapal dari Jepang. Yakni, tiga kapal tanker pengangkut bahan kimia serta satu kapal pengangkut gas alam cair (LNG carrier). "LNG carrier itu untuk mengangkut gas alam cair BP Tangguh," kata Widihardja Direktur Utama BLTA, kemarin.

Tahun ini, BLTA juga bersyukur harga minyak lebih rendah dari tahun lalu. Soalnya, ini akan memangkas biaya operasional BLTA.

Namun, krisis global melemahkan permintaan angkutan ke Eropa. Karena itu, Reza melihat, kontribusi anak usaha BLTA, Chembulk Tankers, akan merosot. Sisi positifnya, rugi kurs takkan membayangi BLTA lantaran rupiah stabil.

Maka, Reza memprediksi laba bersih dan pendapatan BLTA naik 5% dari tahun lalu. Ia pun merekomendasikan beli saham BLTA dengan harga wajar Rp 980 per saham.

Di pihak lain, Edwin menghitung pendapatan BLTA di 2009 akan turun 4,28% menjadi Rp 6,7 triliun. Laba bersihnya akan merosot 6,6% menjadi Rp 1,4 triliun. Itu di luar asumsi pendapatan dari kontrak Tangguh. Ia pun merekomendasikan tahan. "Sampai kita tahu nilai kontrak dari BP Tangguh," ujarnya..

BLTA akan berusaha merebut 21% pasar kapal tanker di domestik yang sekarang masih berbendera asing. Kapasitas kapal BLTA 2,1 juta dead weight ton (dwt).

Tahun lalu ada 89 kapal yang beroperasi, tahun ini ditargetkan jadi 92 kapal BLTA yang beroperasi.Pada 2012, diperkirakan kapal baru tanker akan bertambah 10 unit dan untuk gas empat unit. Sedangkan yang akan masuk tahun ini adalah satu tanker kimia. Sedangkan untuk 2010 akan ada lima kapal masuk terdiri dua gas dan tiga chemical