Tampilkan postingan dengan label UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk. Tampilkan semua postingan
06.48

UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk

Bakrie Sumatera Dapat Pinjaman US$ 15 juta

PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) mendapatkan fasilitas pinjaman sebesar US$ 15 juta. Dana tersebut berasal dari ADM Galleus Fund. UNSP akan menggunakan dana tersebut untuk melunasi kewajiban salah anak usaha UNSP, PT Grahadura Leidongprima pada Raiffeisen Zentralbank Osterreich AG (RZB-Austria).

Fitri Barnas, sekertaris perusahaan UNSP dalam keterbukaan informasi di BEI menjelaskan kalau transaksi tersebut telah mereka tanda tangani pada 10 Mei 2010. "Seluruh jaminan yang semula dijaminkan untuk kepentingan Raiffeisen Zentralbank dialihkan kepada ADM Galleus selaku kreditor," tuturnya.

UNSP menganggap transaksi ini bukan termasuk transaksi material. "Perseroan dan anak usaha perseroan telah memperoleh persetujuan yang diisyartakan oleh anggaran dasar," kata Fitri. Karena itu mereka tidak perlu meminta ijin dari pemegang saham



JAKARTA> PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) mendapatkan fasilitas pinjaman sebesar US$ 15 juta. Dana tersebut berasal dari ADM Galleus Fund. UNSP akan menggunakan dana tersebut untuk melunasi kewajiban salah anak usaha UNSP, PT Grahadura Leidongprima pada Raiffeisen Zentralbank Osterreich AG (RZB-Austria).

Fitri Barnas, sekertaris perusahaan UNSP dalam keterbukaan informasi di BEI menjelaskan kalau transaksi tersebut telah mereka tanda tangani pada 10 Mei 2010. "Seluruh jaminan yang semula dijaminkan untuk kepentingan Raiffeisen Zentralbank dialihkan kepada ADM Galleus selaku kreditor," tuturnya.

UNSP menganggap transaksi ini bukan termasuk transaksi material. "Perseroan dan anak usaha perseroan telah memperoleh persetujuan yang diisyartakan oleh anggaran dasar," kata Fitri. Karena itu mereka tidak perlu meminta ijin dari pemegang saham

08.46

UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk,

UNSP Cetak Laba Bersih Tumbuh 45,63%

Jakarta - PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) mencatat pertumbuhan laba bersih konsolidasi sepanjang 2009 sekitar 45,63% menjadi Rp252,784 miliar dibandingkan sebelumnya hanya Rp173,569 miliar.

Demikian penjelasan resmi manajemen di Jakarta, Rabu (31/3).

Meningkatnya laba bersih ini didongkrak dari untung kurs sekitar Rp138,015 miliar ketimbang 2008 yang menderi rugi kurs sekitar Rp243,037 miliar. Selain itu, laba bersih perusahaan asosiasi pun sebesar Rp59,637 miliar ketimbang sebelumnya rugi Rp78,690 miliar.

Sayang, per 31 Desember 2009 perseroan membukukan penurunan pendapatan bersih sekitar 20,67% dari Rp2,931 triliun menjadi Rp2,325 triliun, namun perseroan berhasil menekan beban pokok penjualan dari Rp1,909 triliun menjadi Rp1,652 triliun.

Ternyata anak usaha Bakrie ini pun masih memiliki utang pajak sekitar Rp81,865 miliar dibandingkan sebelumnya hanya Rp55,080 miliar, utang dividen pun naik dari Rp1,474 miliar menjadi Rp1,528 miliar, namun utang jatuh tempo pada tahun ini pun turun dari Rp2,648 miliar menjadi Rp2,391 miliar

07.41

UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk,

UNSP Closing Tambah Saham di Agri InternationalJAKARTA - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) telah selesai melakukan pembelian saham PT Agri International Resources Pte Ltd (AIRPL) dari Spinnaker Global Emerging Markets Fund Limited pada 11 Maret lalu.

"Pada akhirnya perseroan memiliki 675 lembar saham yang merupakan 73,85 persen dari seluruh saham dalam AIRPL," jelas Corporate Secretary UNSP Fitri Barnas dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (17/3/2010).

Sebelumnya perseroan telah melakukan penutupan untuk transaksi penerbitan first tranche notes senilai USD77,336 juta. Adapun rencana awal perseroan bisa menerbitkan notes tersebut bisa dilakukan sampai dengan jumlah USD100 juta (fixed rate equity linked notes) dan yang jatuh tempo pada 2013.

Notes tersebut telah diambil oleh Spinnaker Global Emerging Market Fund Limited, Lim Asia Multi Strategy Fund Inc, Highview Point Master Fund Ltd, dan Millenium Global Hogh Yiled Fund Limited. Dana hasil dari penerbitan notes digunakan oleh perseroan sebagai pembayaran atas penyertaan dan atau peningkatan penyertaan.

Peningkatan penyertaan akan dilakukan perseroan di Agri International Resources Pte Ltd, Singapura. Saat ini perseroan memiliki sebanyak 334 saham atau 36,54 persen. Dengan adanya penambahan penyertaan, maka porsi perseroan di Agri International Resources akan menjadi 538 saham, atau 58,86 persen.

Selain itu, dia juga akan melakukan penambahan penyertaan pada IndoGreen International Limited, Malaysia. Adapun penyertaan saham UNSP pada IndoGreen tersebut adalah 150 saham atau sebesar 18,45 persen.

Sehubungan dengan penerbitan notes tersebut, perseroan dan anak usaha perusahaan perseroan yaitu, PT Bakrie Pasaman Plantations, PT Agrowijaya, PT Agro Mitra Madani, PT Huma Indah Mekar, dan PT Air Muring telah menandatangani dokumen-dokumen terkait dengan penerbitan notes tersebut.

Dokumen tersebut antara lain Purchase Agreement, Agency Agreement dan Trust Deed. Transaksi ini juga telah memperoleh persetujuan dari dewan komisaris perseroan, sehingga transaksi tersebut telah sesuai dengan anggaran dasar perseroan. Dia juga mengatakan jika transaksi tersebut tidak termasuk transaksi afiliasi dan transaksi material.

06.24

UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk,

Akuisisi Domba Mas oleh Bakrie, Madu atau Racun

Akuisisi Domba Mas bisa menjadi madu yang membuat Bakrie Sumatera gagah perkasa. Tapi, akuisisi Domba Mas juga bisa menjadi racun yang bakal membuat Bakrie Sumatera lunglai tak bertenaga.

Dari seabrek ekspansi yang dilakukan manajemen PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), rencana akuisisi PT Domba Mas (Domas) Agro Inti Prima, produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan oleokimia milik Grup Domba Mas, bisa dibilang paling obsesif.

Begitu kuat hasrat manajemen Bakrie Sumatera menguasai Domba Mas, sampai-sampai bos kelompok usaha Bakrie, Nirwan Bakrie, meminta para petinggi Bakrie Sumatera all out merealisasikan rencana tersebut.

“Pokoknya, akuisisi Domba Mas harus terealisasi, dengan cara apa pun,” tandas Nirwan Bakrie, seperti ditirukan sumber Investor Daily.

Boleh jadi, karena itulah, manajemen Bakrie Sumatera memutuskan untuk menunda aksi korporasi lainnya, termasuk rencana ekspansi perkebunan sawit dan karet ke Liberia, Afrika Barat. “Untuk sementara, kami akan konsolidasi dulu,” tutur Direktur Bakrie Sumatera Howard J Sergent.

Keinginan manajemen Bakrie Sumatera menguasai Domba Mas tinggal selangkah lagi. Hari ini (Senin, 18/1), manajemen Bakrie Sumatera menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) untuk meminta persetujuan akuisisi Domba Mas dan sejumlah perusahaan lain.

Kecuali rencana akuisisi, manajemen Bakrie Sumetara akan meminta persetujuan menambah modal melalui penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue sebanyak 9,46 miliar saham dengan harga Rp 525 per unit atau senilai total Rp 4,97 triliun.

Dari total dana hasil rights issue yang bakal diraup Bakrie Sumatera, sekitar Rp 1,1 triliun akan digunakan untuk mengakuisisi 100% saham PT Domas Agrointi Prima, sedangkan Rp 3,16 triliun lainnya untuk menambah modal anak usaha.

Kecuali Domas Agrointi Prima, Bakrie Sumatera akan menguasai 0,4% saham PT Sawitmas Agro Perkasa, 100% saham PT Industama Perkasa, 100% saham PT Flora Sawita Chemindo, 100% saham PT Domas Agrointi Perkasa, dan 100% saham PT Domas Sawitinti Perdana.

Perusahaan lain yang bakal dicaplok Bakrie Sumatera adalah PT Monrad Intan Berakat (100%), PT Julang Oca Permana (100%), dan PT Citralaras Cipta Indonesia (100%). Bakrie Sumatera juga menganggarkan Rp 1,25 triliun dana hasil rights issue untuk pengembangan usaha di bisnis hulu dan sekitar Rp 450 miliar untuk tambahan modal kerja.

Sumber Penghasilan

Menggebu-gebunya keinginan Bakrie Sumatera mengakuisisi Domba Mas tergolong wajar. Jika berhasil menguasai produsen oleokimia berkapasitas produksi 140 ribu ton fatty alcohol per tahun tersebut, Bakrie Sumatera bakal menjadi produsen oleokimia terintegrasi nomor wahid di Indonesia.

Akuisisi ini diharapkan mampu menghasilkan sinergi dari integrasi vertikal dengan industri hulu yang telah dimiliki dan dikelola perseroan," ujar Direktur Utama Bakrie Sumatera Ambono Janurianto.

Manajemen Bakrie Sumatera pun yakin betul akuisisi Domba Mas akan membuat kocek perseroan semakin tebal. “Domba Mas akan mengontribusi kenaikan pendapatan dua kali lipat pada 2011,” kata Direktur Keuangan Bakrie Sumatera Harry M Nadir.

Dalam ancar-ancar Bahana Securities, pendapatan Bakrie Sumatera tahun ini tumbuh 22,07% menjadi Rp 2,62 triliun dibanding perkiraan tahun lalu Rp 2,15 triliun. “Laba bersihnya bakal naik 20,93% dari Rp 320 miliar menjadi Rp 387 miliar,” papar analis Bahana Securities Alfi Fadhliyah.

Domba Mas menguasai lahan sawit seluas 300 ribu ha di Sumatera Utara, Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Timur. Sekitar 175 ribu ha di antaranya merupakan tanaman kelapa sawit yang berproduksi.

Adapun Bakrie Sumatera mengelola 108.844 ha area tanam di Sumatera dan Kalimantan. Lahan seluas 18.832 ha atau sekitar 17% dari total area yang dikelola perseroan ditanami karet. Bakrie Sumatera juga tengah menanami area baru serta memperluas lahan di Kalimantan dan Sumatera.


Menjadi Racun

Begitu cemerlangkah proyeksi dan asumsi-asumsi kinerja Bakrie Sumetera jika sukses mengakuisisi Domba Mas? Tentu saja tidak. Akuisisi Domba Mas masih menyisakan sejumlah “catatan kaki”. Utang Domba Mas yang mencapai US$ 314 juta, misalnya, bisa menjadi “racun”.

Kewajiban Domba Mas meliputi utang kepada PT Bank Mandiri Tbk sebesar US$ 45 juta di pabrik acid dan US$ 78 juta di pabrik refinery. Perusahaan itu pun harus merestrukturisasi kewajiban US$ 151 juta kepada Credit Suisse di pabrik alkohol dan US$ 40 juta kepada produsen kosmetik global, Procter & Gamble (P&G).

Bila terlaksana, akuisisi Domba Mas akan membuat utang Bakrie Sumatera semakin tambun. Maklum, Bakrie bakal mewarisi utang Domba Mas yang harus direstrukturisasi. Padahal, utang Bakrie sudah lumayan besar. “Belum lagi jika perseroan mencari pinjaman dari bank atau menerbitkan obligasi,” ucap Kepala Riset Valbury Asia Securities Khrisna Setiawan.

Rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio/DER) Bakrie Sumatera memang sudah lumayan tinggi, mencapai 42,77%. Angka itu di atas DER industri perkebunan yang hanya 32,38%. DER yang terlalu tinggi tentu saja bisa menggganggu kinerja keuangan perseroan.

Dan, ternyata, besarnya utang itulah yang konon membuat sejumlah calon pembeli Domba Mas di luar Bakrie Sumatera, mundur. Lagipula, harga Domba Mas dianggap kelewat mahal.

Adalah PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) yang dua tahun lalu berniat membeli Domba Mas. Cuma, gara-gara harga yang ditawarkan terlalu tinggi, “Proses akuisisi itu batal," tutur Sekretaris Perusahaan Gozco Liviana.

Harga Saham

Di luar soal utang, langkah Bakrie Sumatera mengakuisisi Domba Mas diyakini bakal membuat harga saham emiten bersandi UNSP itu kian berotot. Hanya saja, dalam jangka pendek, “Harga UNSP kemungkinan terpengaruh rights issue,” ujar analis Citi Pacific Sekuritas Hendri Effendi.

Dalam hitung-hitungan Bahana Securities, harga UNSP berpotensi menembus Rp 1.125 dengan asumsi price to earning ratio (PER) tahun ini mencapai 11,1 kali. Pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (15/1), saham UNSP ditutup melemah Rp 20 menjadi Rp 660.

Di luar isu akuisisi, Bakrie Sumatera sedang getol berbenah. Saat ini, misalnya, perusahaan itu sedang menuntaskan pengelolaan seluruh unit perkebunannya berdasarkan prinsip kelestarian lingkungan yang digariskan dalam Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO).

“Kami punya 14 unit perkebunan. Setiap tahun, kami akan mengajukan satu unit perkebunan untuk mendapatkan sertifikasi RSPO,” papar Head of Corporate Quality Bakrie Sumatera Efdy Ruzaly.

Bakrie Sumatera juga sedang merambah bisnis baru pembibitan kelapa sawit. Untuk maksud tersebut, perseroan segera membentuk anak usaha baru yang disebut Bakrie Agriculture Research Institute (BARI).

Kelak, bibit produksi BARI yang berasal dari varietas unggul, seperti Avros, Ekona, Ghana, Nigeria, Evolution, dan Compact, tak hanya dipasok untuk kebutuhan internal, tapi juga untuk dijual.

”Kami bekerja sama dengan ASD de Costa Rica sebagai penyedia tanaman induk,” ujar Seed Garden Project Manager Bakrie Sumatera Bambang Eka Syahputra. (abdul aziz)

07.04

UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk,


JAKARTA. Keinginan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mengakusisi aset Grup Domba Mas (Domas) semakin mendekati kenyataan. Akhir bulan ini, anak usaha Grup Bakrie ini akan merampungkan akuisisi senilai Rp 2,2 triliun tersebut. Sebagai konsekuensinya, UNSP akan merestrukturisasi utang beberapa perusahaan oleokimia di bawah Grup Domas.

Nilai utang yang direstrukturisasi mencapai US$ 269 juta. Rinciannya, utang US$ 191 juta kepada Credit Suisse, termasuk dari P&G senilai US$ 40 juta, dan utang sebesar US$ 78 juta kepada Bank Mandiri.

Menurut Direktur Utama Bakrie Sumatera Ambono Janurianto, restrukturisasi utang itu sudah mendapat persetujuan prinsip dari para kreditur. Persetujuan itu sudah mencakup klausul persyaratan seperti bunga, jaminan, dan perpanjangan jatuh tempo selama tujuh tahun ke depan.

Selain itu, UNSP telah mengantongi restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), kemarin, untuk mengakuisisi aset Grup Domas. Selain itu, UNSP akan menerbitkan saham baru atau rights issue sebanyak 9,45 miliar saham dengan harga penawaran Rp 525 per saham. Sehingga, duit yang diperoleh sebesar Rp 4,96 triliun.

Nah, duit inilah yang digunakan UNSP untuk mengakusisi Domas Agrointi Prima, Domas Agrointi Perkasa, dan Domas Sawitinti Perdana.
UNSP juga akan mengakusisi 100% saham dua perusahaan sawit, yakni PT Monrad Intan Barakat dan PT Citralaras Cipta Indonesia, serta satu perusahaan perkebunan karet, yaitu PT Julang Oca Permana.

Ambono menjelaskan, lahan perkebunan itu belum semuanya tertanami dan siap panen. Kemungkinan, perkebunan sawit dan karet itu baru memberikan sumbangan pendapatan bagi UNSP mulai tahun depan. "Kalau full impact terjadi di 2012," imbuhnya.

Dia menambahkan, hingga kini, UNSP belum berniat melakukan ekspansi ke luar negeri dan masih fokus pada pengembangan lahan yang sudah ada. "Bisa saja tahun depan baru ekspansi ke luar negeri," ujara Ambono.

Catatan saja, UNSP memperkirakan, laba bersih UNSP tahun lalu naik paling tidak 10% dibandingkan pencapaian 2008. Namun, pendapatannya mungkin turun karena harga jual lebih rendah.

05.37

UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk,

JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) akan menerbitkan saham baru hingga 9,47 miliar saham. Rencananya, UNSP akan menjual saham-saham baru ini dengan nilai nominal Rp 100 per saham dan harga penawaran Rp 525 per saham.


PT Danatama Makmur akan bertindak sebagai pembeli siaga rights issue UNSP ini. Kalau pemegang saham tidak mengeksekusi haknya, maka kepemilikan sahamnya bisa terdilusi antara 71,43% hingga 72,73%.

Dari penjualan saham ini, UNSP berniat mengumpulkan dana hingga Rp 4,97 triliun. Dari total dana yang terkumpul, sebanyak 64,9% atau sekitar Rp 3,16 triliun akan dipakai untuk peningkatan modal pada anak usaha tertentu. Selanjutnya, anak usaha ini akan mengakuisisi perusahaan-perusahaan bidang perkebunan kelapa sawit dan karet serta pengolahan oleochemical.

Perinciannya adalah, sebesar 22,6% atau sekitar US$ 110 juta akan dipakai untuk membeli 100% saham PT Domas Agrointi Prima. Perusahaan yang hendak dibeli ini memiliki 99,6% saham PT Sawitmas Agro Perkasa, 100% saham PT Sarana Industama Perkasa, 100% saham PT Flora Sawita Chemindo, 100% saham PT Dimas Agrointi Perkasa, dan 100% saham PT Dimas Sawitinti Perdana. Semua perusahaan ini merupakan perusahaan oleochemical.

Sebesar 11,5% dari total dana rights issue atau sekitar Rp 560 miliar akan dipakai untuk peningkatan modal dan belanja modal di calon anak-anak usaha tersebut. Sekitar 11,1% atau Rp 540 miliar akan dipakai untuk modal kerja di calon anak-anak usaha ini.

Selain itu, sebesar 11,3% hasil penjualan saham baru ini akan dipakai untuk membeli perusahaan Monrad. Monrad merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berlokasi di Limamar, Kecamatan Astanbul, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Sekitar 5,1% atau sebesar Rp 250 miliar akan dipakai untuk membeli 100% saham PT Julang Oca Permana. Ini adalah sebuah perusahaan perkebunan karet yang berada di Bengkulu. Sedanhkan 3,3% atau sebesar Rp 160 miliar untuk membeli 100% saham PT Citalaras Cipta Indonesia, sebuah perusahaan kelapa sawit di Sumatera Barat.

Selanjutnya, sebesar 25,7% atau Rp 1,25 triliun dari dana penawaran umum terbatas ini akan dipakai untuk pengembangan usaha UNSP di sektor hulu, yaitu di bagian perkebunan. Dana yang tersisa sekitar 9,5% atau Rp 460 miliar akan dipakai untuk tambahan modal kerja UNSP.

Setiap pemegang dua saham UNSP mempunyai Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atas lima saham baru UNSP. Dan setiap 15 saham baru yang dibeli, melekat satu waran.

UNSP memang akan sekalian melepas waran dalam HMETD sebesar 631,33 juta waran dengan harga pelaksanaan Rp 530 per saham. Waran ini bisa dilaksanakan mulai 1 Agustus 2010 hingga 31 Januari 2013.

Dari penukaran waran seri II ini nanti, UNSP bisa mendapat dana hingga Rp 334,61 miliar. UNSP akan menggunakan dana yang diperoleh dari waran ini untuk tambahan modal kerja UNSP dan anak usahanya.

UNSP akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 Januari 2010 nanti untuk meminta persetujuan rights issue ini. Tanggal efektif rights issue diperkirakan juga pada 18 Januari nanti.

Untuk tanggal terakhir perdagangan saham dengan HMETD direncanakan pada 25 Januari 2010 untuk di pasar reguler dan pasar negosiasi, serta pada 28 Januari 2010 untuk pasar tunai. Tanggal pencatatan daftar pemegang saham yang berhak pada 28 Januari 2010. Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD pada 1 Februari 2010 hingga 5 Februari 2010. Sementara tanggal penjatahan pada 10 Februari 2010.


Summary

Besaran saham: 9.469.992.337 saham
Nilai nominal: Rp100/saham
Harga penawaran: Rp525/saham atau Rp4,9 triliun
Ratio: 2:5
Cum rights issue: 25 Januari 2010
Recording date: 28 Januari 2010
Masa perdagangan: 1- 5 Februari 2010
Rights issue ini memberikan warrant Seri II sebanyak 631.332.822 dengan harga Rp530/saham, ratio 1:1
Masa pelaksanaan warrant: 1 Agustus 2010-31 Januari 2013
Masa perdagangan warrant: 1 Februari 2010-25 Januari 2013
Selain itu, setiap 15 saham baru hasil rights issue akan mendapat 1 warrant.

05.34

UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk,

JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) masih harus melewat perjalanan panjang untuk memanen hasil dari akuisisi saham Domba Mas. Soalnya, UNSP masih harus melakukan restrukturisasi utang calon anak usahanya yang akan diakuisisi lewat PT Grahadura Leidongprima ini. Domba Mas tercatat sebagai salah satu kreditur Bank Mandiri.

Direktur Keuangan UNSP Harry M. Nadir mengatakan, restrukturisasi utang nanti, bukan berarti UNSP harus menambah dana lagi untuk membayar utang. "Restrukturisasi utang itu soal waktu pembayaran utangnya dan operasional asetnya," kata Harry, Selasa (15/12).

UNSP juga akan membeli beberapa perusahaan oleochemical, dengan total pembelian plus suntikan modal mencapai Rp 2,2 triliun. Dananya dari penerbitan saham baru atau rights issue senilai Rp 4,97 triliun.

Rinciannya adalah, sebesar 22,6% atau sekitar US$ 110 juta akan dipakai untuk membeli 100% saham PT Domas Agrointi Prima. Perusahaan yang hendak dibeli ini memiliki 99,6% saham PT Sawitmas Agro Perkasa, 100% saham PT Sarana Industama Perkasa, 100% saham PT Flora Sawita Chemindo, 100% saham PT Domas Agro Inti Perkasa, dan 100% saham PT Domas Sawitinti Perdana.

Sebesar 11,5% dari total dana rights issue atau sekitar Rp 560 miliar akan dipakai untuk peningkatan modal dan belanja modal di calon anak-anak usaha tersebut. Sekitar 11,1% atau Rp 540 miliar akan dipakai untuk modal kerja di calon anak-anak usaha ini.

PT Domas Agrointi Prima per Agustus 2009, memiliki total aset Rp 3,14 triliun. Ekuiti minus Rp 382,4 miliar dan total utang Rp 3,52 triliun. Hingga bulan kedelapan tahun ini, Domas Agro membukukan pendapatan Rp 127 miliar dengan laba bersih Rp 14,53 miliar.

PT Sawitmas Agro Perkasa memiliki total aset Rp 1,04 triliun per Agustus 2009. Ekuiti minus Rp 110,17 miliar dan total utang Rp 1,15 triliun. Perusahaan pengolahan oleochemical yang berlokasi di Kuala Tanjung ini tidak membukukan penjualan dan mencatat rugi bersih Rp 4,11 miliar.

PT Flora Sawita Chemindo memiliki total aset Rp 488,74 miliar dengan total ekuiti minus Rp 697,64 miliar dan total utang Rp 1,19 triliun. PT Domas Agro Inti Perkasa memiliki total aset Rp 270,13 miliar dengan ekuiti minus Rp 62,58 miliar dan total utang Rp 332,71 miliar. Sementara, PT Domas Sawitinti Perdana memiliki total aset Rp 140,63 miliar dengan ekuiti minus Rp 35,04 miliar dan total utang Rp 175,66 miliar. Kalau dijumlahkan, total utang perusahaan-perusahaan oleochemical ini mencapai Rp 6,37 triliun.

06.58

UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk,

Jika Domba Mas Jatuh ke Pangkuan Bakrie Sumatera Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail

Kocek PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) bakal semakin gembung. Itu jika emiten bersandi saham UNSP ini sukses mengakuisisi PT Domba Mas Agro Inti Prima. Tapi, benarkah saham UNSP bakal tak berotot jika dana akuisisi diperoleh dari hasil rights issue?
Bakrie Sumatera Plantations sedang menyiapkan rencana besar, yakni mengakuisisi PT Domba Mas Agro Inti Prima, produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan oleokimia milik Grup Domba Mas.
Jika terealisasi, pundi-pundi Bakrie Sumatera diyakini bakal melembung. Gerak-gerik saham perusahaan di bawah bendera Grup Bakrie ini pun diramalkan secemerlang prospek bisnisnya.
“Akuisisi Domba Mas akan meningkatkan pendapatan Bakrie Sumatera. Jadi, akuisisi tersebut akan berdampak positif untuk jangka pendek dan menengah,” kata analis Citi Pacific Sekuritas Hendri Effendi.
Bakrie Sumatera menjadi pemimpin konsorsium dari sejumlah perusahaan lokal dan asing untuk mengakuisisi 100% saham Domba Mas. Perseroan tengah memfinalisasi pembelian saham perusahaan tersebut senilai US$ 500 juta.
Meski Domba Mas Group terlilit utang hingga Rp 3,3 triliun kepada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), akuisisi itu diyakini tak terlalu bermasalah. “Selama Domba Mas memiliki fundamental dan aset yang memadai serta mampu mengontribusi pendapatan, dampaknya tetap bagus bagi Bakrie Sumatera,” papar Hendri Effendi.
Sekadar informasi, Domba Mas menguasai lahan sawit seluas 300 ribu hektare (ha) di Sumatera Utara, Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Timur. Sekitar 175 ribu ha di antaranya merupakan tanaman kelapa sawit yang berproduksi.
Adapun Bakrie Sumatera mengelola 108.844 ha area tanam di Sumatera dan Kalimantan. Lahan seluas 18.832 ha atau sekitar 17% dari total area yang dikelola perseroan ditanami karet. Bakrie Sumatera juga tengah menanami area baru di Kalimantan dan Sumatera.
Dari Rights Issue
Bakrie Sumatera Plantations disebut-sebut membutuhkan dana sedikitnya US$ 500 juta atau sekitar Rp 5 triliun untuk mengakuisisi Domba Mas Agro Inti Prima. Guna menghimpun dana akuisisi, Bakrie Sumatera bakal menerbitkan saham baru alias rights issue.
Penerbitan tersebut dilakukan dengan cara mengeluarkan saham dari portepel atau simpanan perseroan disertai waran seri II. Untuk maksud tersebut, manajemen Bakrie Sumatera akan meminta persetujuan pemegang saham pada 13 Januari 2010.
Lewat rights issue, Bakrie Sumatera memang akan meraup banyak dana segar. “Tapi investor terlihat masih berhati-hati terhadap rencana tersebut. Secara historis, rights issue akan merugikan investor yang tidak melaksanakan haknya karena porsi persentase kepemilikan di perusahaan berkurang,” tutur Hendri Effendi.
Apakah itu berarti harga saham emiten berkode UNSP ini bakal amblas? “Gerak saham Bakrie Sumatera akan ditentukan harga saham teoritis rights issue. Sebelum penentuan harga rights issue akan ada aksi spekulasi beli dari investor untuk mengantisipasi pembentukan harga,” tandas Hendri.
Ke depan, tentu saja kinerja saham Bakrie Sumatera masih akan ditentukan perkembangan harga CPO serta kemampuan perseroan mengatur volume produksinya. Yang pasti, setelah mengakuisisi Domba Mas dan harga CPO menguat, pendapatan Bakrie Sumatera diestimasikan naik berlipat.
Di luar akuisisi Domba Mas, Bakrie Sumatera juga berencana ekspansi perkebunan sawit dan karet seluas 4.000 ha ke Liberia, Afrika Barat. Perseroan telah menghabiskan dana awal Rp 93,1 miliar untuk biaya lisensi dan studi lapangan. “Kami akan ekspansi ke Liberia dengan investasi sekitar US$ 250 juta,” ucap Direktur Keuangan Bakrie Sumatera Harry M Nadir.
Bakrie Sumatera konon bakal menggandeng International Finance Corporation (IFC), anak usaha Bank Dunia, untuk berinvestasi di negara yang terletak di pantai barat Afrika itu.
Salah satu alasan Bakrie Sumatera ekspansi ke Liberia adalah mencari lahan investasi alternatif yang lebih murah. Liberia juga memiliki kondisi cuaca yang hampir sama dan biaya pengapalan yang lebih rendah untuk pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS).
“Seiring strategi bisnis Bakrie Sumatera yang kian agresif, tahun depan merupakan masa konsolidasi karena perseroan baru akan mengatur area yang diakuisisi,” kata analis Bahana Securities Alfi Fadhliyah.
Bahana Securities menargetkan tahun depan pendapatan Bakrie Sumatera naik 22,07% menjadi Rp 2,62 triliun dari perkiraan tahun ini Rp 2,15 triliun. Laba usaha perseroan akan tumbuh 25,16% dari Rp 457 miliar menjadi Rp 572 miliar, sedangkan laba bersih diestimasikan tumbuh 20,93% dari Rp 320 miliar menjadi Rp 387 miliar.
Berpeluang Menguat
Bagaimana dengan harga saham UNSP di lantai bursa? “Harga saham Bakrie Sumatera berpotensi mencapai Rp 1.125 atau lebih tinggi dibanding target awal Rp 1.075,” ujar Alfi Fadhliyah.
Bahana Securities menetapkan asumsi harga tersebut berdasarkan pertimbangan price to earning ratio (PER) tahun depan sebanyak 11,1 kali. Kondisi itu juga merepresentasikan diskon 40% terhadap PER produsen CPO di Malaysia sebesar 18,5 kali pada 2010.
Cuma, dibanding pesaingnya di pasar lokal, harga saham Bakrie Sumatera justru jatuh 71% dari posisi tertingginya Rp 2.825 pada pertengahan Januari 2008. Alhasil, UNSP tercatat sebagai saham kedua termurah di sektor CPO setelah saham PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA).

06.02

UNSP Bakrie Sumatera Plantations Tbk

Ekspansi ke Kamboja, UNSP Investasi USD30 Juta


JAKARTA - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menyiapkan dana sebesar USD30 juta untuk ekspansi bisnis perkebunannya di negara Kamboja.

"Sekira USD30 juta kita siapkan untuk menambah lahan perkebunan seluas 10.000 hektare (ha)," kata Direktur UNSP Howard H Sargeant, saat ditemui wartawan di Universitas Bakrie, di Kampus Universitas Bakrie, Jakarta, Jumat (20/11/2009).

Dijelaskannya, sebanyak 20 persen dari dana tersebut akan didapatkan dari kas internal perseroan. Sementara sisanya akan didapatkan perseroan dari pinjaman luar negeri. "Dari mana saja pokoknya," jelasnya.

Selanjutnya, dia mengatakan jika lahan seluas 10 ribu ha tersebut akan didapatkan perseroan dari akuisisi lahan (lahan sudah tertanam) serta dari pembukaan lahan baru. "Itu mungkin dari akuisisi lahan atau bisa juga dari lahan baru. Atau bisa juga keduanya," paparnya.

Howard memaparkan, jika ternayata akuisisi lahan yang dilakukan perseroan, baru akan menghasilkan pada 2010. Akan tetapi, jika membuka lahan baru (green field), untuk tanaman karet membutuhkan waktu lima tahun untuk menghasilkan, sementara lahan baru kelapa sawit baru menghasilkan setelah tiga tahun ditanam.

Selain itu, perseroan juga tengah mengkaji untuk melakukan ekspansi di Vietnam. "Tapi mungkin juga belum," tukasnya.

Dalam melakukan ekspansinya ke luar negeri, perseroan melakukannya melalui anak usahanya, Bakrie Sumatera Plantations Liberia.

06.02

UNSP Bakrie Sumatera Plantations Tbk

Ekspansi ke Kamboja, UNSP Investasi USD30 Juta


JAKARTA - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menyiapkan dana sebesar USD30 juta untuk ekspansi bisnis perkebunannya di negara Kamboja.

"Sekira USD30 juta kita siapkan untuk menambah lahan perkebunan seluas 10.000 hektare (ha)," kata Direktur UNSP Howard H Sargeant, saat ditemui wartawan di Universitas Bakrie, di Kampus Universitas Bakrie, Jakarta, Jumat (20/11/2009).

Dijelaskannya, sebanyak 20 persen dari dana tersebut akan didapatkan dari kas internal perseroan. Sementara sisanya akan didapatkan perseroan dari pinjaman luar negeri. "Dari mana saja pokoknya," jelasnya.

Selanjutnya, dia mengatakan jika lahan seluas 10 ribu ha tersebut akan didapatkan perseroan dari akuisisi lahan (lahan sudah tertanam) serta dari pembukaan lahan baru. "Itu mungkin dari akuisisi lahan atau bisa juga dari lahan baru. Atau bisa juga keduanya," paparnya.

Howard memaparkan, jika ternayata akuisisi lahan yang dilakukan perseroan, baru akan menghasilkan pada 2010. Akan tetapi, jika membuka lahan baru (green field), untuk tanaman karet membutuhkan waktu lima tahun untuk menghasilkan, sementara lahan baru kelapa sawit baru menghasilkan setelah tiga tahun ditanam.

Selain itu, perseroan juga tengah mengkaji untuk melakukan ekspansi di Vietnam. "Tapi mungkin juga belum," tukasnya.

Dalam melakukan ekspansinya ke luar negeri, perseroan melakukannya melalui anak usahanya, Bakrie Sumatera Plantations Liberia.

06.02

UNSP Bakrie Sumatera Plantations Tbk

Ekspansi ke Kamboja, UNSP Investasi USD30 Juta


JAKARTA - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menyiapkan dana sebesar USD30 juta untuk ekspansi bisnis perkebunannya di negara Kamboja.

"Sekira USD30 juta kita siapkan untuk menambah lahan perkebunan seluas 10.000 hektare (ha)," kata Direktur UNSP Howard H Sargeant, saat ditemui wartawan di Universitas Bakrie, di Kampus Universitas Bakrie, Jakarta, Jumat (20/11/2009).

Dijelaskannya, sebanyak 20 persen dari dana tersebut akan didapatkan dari kas internal perseroan. Sementara sisanya akan didapatkan perseroan dari pinjaman luar negeri. "Dari mana saja pokoknya," jelasnya.

Selanjutnya, dia mengatakan jika lahan seluas 10 ribu ha tersebut akan didapatkan perseroan dari akuisisi lahan (lahan sudah tertanam) serta dari pembukaan lahan baru. "Itu mungkin dari akuisisi lahan atau bisa juga dari lahan baru. Atau bisa juga keduanya," paparnya.

Howard memaparkan, jika ternayata akuisisi lahan yang dilakukan perseroan, baru akan menghasilkan pada 2010. Akan tetapi, jika membuka lahan baru (green field), untuk tanaman karet membutuhkan waktu lima tahun untuk menghasilkan, sementara lahan baru kelapa sawit baru menghasilkan setelah tiga tahun ditanam.

Selain itu, perseroan juga tengah mengkaji untuk melakukan ekspansi di Vietnam. "Tapi mungkin juga belum," tukasnya.

Dalam melakukan ekspansinya ke luar negeri, perseroan melakukannya melalui anak usahanya, Bakrie Sumatera Plantations Liberia.

07.02

UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk,

JAKARTA. Hingga enam bulan pertama di tahun 2009 ini, pendapatan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) masih turun dibanding semester satu 2008 lalu.

Dalam laporan keuangan tengah tahun yang dipublikasikan hari ini, Rabu (30/9) UNSP mencatat penjualan bersih Rp 1,04 triliun. Penjualan ini turun 34,18% dibanding penjualan bersih semester satu 2008 lalu yang mencapai Rp 1,58 triliun.

Laba kotor dan laba usaha UNSP masing-masing turun 44,28% dan 48,6% menjadi Rp 315,23 miliar dan Rp 241,16 miliar. Penurunan ini ditambah dengan beban lain-lain yang membengkak. Semester satu 2008 lalu, UNSP masih membukukan pendapatan lain-lain hingga Rp 21,58 miliar. Sementara semester satu tahun ini, UNSP membukukan beban lain-lain sebesar Rp 34,41 miliar.

Penurunan ini membuat laba bersih UNSP turun hingga 58,59% menjadi Rp 135,19 miliar dibanding enam bulan pertama tahun lalu sebesar Rp 326,45 miliar.

Lab bersih per saham semeseter I-2009 sebesar Rp 36 per saham, turun 58,13% dari semester I-2008 sebesar Rp 86 per saham

07.03

UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk,

UNSP: Cari Pinjaman, Untuk Talangi Utang US$ 150 juta Anak Usaha.
Selasa, 25 Agustus 2009 11:25 WIB

(Vibiznews – Stocks) Emiten perkebunan, PT Bakrie Sumatera Plantation tbk (UNSP) saat ini sedang menjajaki pinjaman bank atau obligasi konversi untuk memenuhi kewajiban anak usahanya. Anak usaha UNSP, yaitu Agri Resources Pte Ltd memiliki kewajiban sebesar US$ 150 juta yang jatuh tempo pada 2012.

UNSP sendiri memiliki 52% saham Agri Resources dan memiliki hak untuk menambah hak kepemilikan hingga 100%. Hak eksekusi penambahan kepemilikan saham oleh UNSP berlaku hingga 2013 sehingga membuka peluang yang cukup besar bagi UNSP untuk mengakuisisi sisa saham Agri

Agri Resources memiliki 2 lahan kelapa sawit seluas 56.618 ha di Sumatra, dimana sekitar 30.195 ha sudah ditanami. Pemegang saham Agri Resources selain UNSP adalah Jeffrie Group Inc yang merupakan hedge fund asal AS

Analis Vibiz Research unit dari Vibiz Consulting melihat Agri Resources merupakan potensi yang cukup besar bagi UNSP, namun masalah utangnya cukup mengkhawatirkan karena Moody’s belum lama ini menurunkan peringkat Agri dari B3 menjadi Caa1. Namun seiring dengan membaiknya harga CPO dan permintaan diperkirakan arus kas perusahaan akan membaik sehingga mampu melunasi semua kewajiban-kewajibannya, terlebih lagi selama ini Agri tidak pernah lalai membayar bunga kupon dan masa jatuh tempo juga masih cukup lama.

07.27

UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk,

Jakarta – PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) menargetkan penjualan CPO untuk tahun 2009 sebanyak 250,000 ton, dan target produksi sebesar 150,000 ton.

Hal ini diprediksi tim riset Asia Kapitalindo Securities Agustus 2009.

Ia melihat, sampai dengan kuartal I-2009, perseroan telah memproduksi CPO dan karet sebanyak 26.100 ton atau meningkat 6% apabila dibandingkan dengan kuartal 1 tahun lalu yang sebesar 24.600 ton. Luas lahan yang dimiliki saat ini adalah 150,000 ha dengan luas lahan tertanamnya sebesar 120,000 ha atau sebanyak 80% total lahan. Dengan lahan seluas itu, perseroan menargetkan Capex untuk tahun 2009 hanya sebesar US$10 juta, dana tersebut nantinya digunakan hanya untuk perawatan dan replanting.

Perseroan juga tengah menjajaki pengembangan kelapa sawit di Liberia, Afrika Selatan, dengan luasan lahan mencapai 200 ribu ha. Investasi yang akan ditanamkan diperkirakan mencapai Rp4,1 miliar untuk setiap 4.000 ha.

07.32

UNSP Bakrie Sumatera Plantation Tbk

UNSP: Cari Pinjaman US$ 110 juta, Untuk Penanaman
Kamis, 23 Juli 2009 10:20 WIB

(Vibiznews – Stocks) Emiten perkebunan milik Grup Bakrie, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) kabarnya saat ini membutuhkan dana pinjaman sebesar US$ 110 juta atau sekitar Rp 1,1 triliun. Pencarian pinjaman ini dilakukan karena UNSP membutuhkan dana untuk penanaman kelapa sawit di Riau dan Kalimantan tengah yang memiliki luas 36.000 ha.

Saat ini UNSP sedang menjajaki pinjaman tersebut dari beberapa bank karena sulitnya likuiditas dari institusi keuangan saat ini. Selain itu harga minyak sawit mentah CPO saat ini masih penuh dengan tekanan terkait dengan krisis global.

Sepertinya pencairan pinjaman US$ 110 juta baru akan dilakukan pada 2010, dimana untuk tahun ini perseroan masih akan menggunakan modal sendiri dan mitra senilai US$ 116 juta. Pihak UNSP optimis realisasi penanaman kelapa sawit di Riau dan Kalimantan Selatan tuntas pada 2010-2011.