Tampilkan postingan dengan label KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk. Tampilkan semua postingan
06.08

KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk,

Menghadapi Krisis Ini Jangan Takut, tapi Harus Berani Kreasi

Ditulis oleh Redaksi-1


Meski kondisi ekonomi sedang tidak bersahabat akibat krisis ekonomi yang diembuskan dari Negeri Paman Sam, pengembang kawasan Jababeka, PT Jababeka Tbk., tidak sekali pun berniat mengerem laju ekspansinya. Perusahaan dengan kode emiten KIJA ini tetap berniat melanjutkan semua pembangunan proyek yang telah berjalan sejak tahun lalu. Rencana ekspansi terus dilakukan karena masih besarnya kebutuhan infrastruktur di dalam negeri.

S. D. Darmono, pendiri dan presiden direktur PT Jababeka Tbk., mengatakan hal tersebut kepada Evi Ratnasari dari Warta Ekonomi di sela-sela acara diskusi Entrepreneurs Forum yang diselenggarakan Ernst and Young, Rabu (29/7), di Jakarta. Seperti apa perkembangan kawasan Jababeka sekarang? Berikut penjelasan lebih lanjut dari S. D. Dharmono. Petikannya:

Seperti apa konsep pembangunan Jababeka sekarang?

Kami sebenarnya ingin membuat daya saing Jababeka juga bermanfaat bagi Indonesia secara keseluruhan. Kalau bicara tentang kekayaan, negara kita ini kaya, tetapi kita miskin dalam hal pendidikan dan kesehatan. Apa yang mesti kita perbuat untuk meningkatkan competitive advantage kita? Sumber daya manusia (SDM) perlu kita gerakkan dan tingkatkan. Maka, konsentrasi Jababeka sekarang sebetulnya lebih banyak ke pendidikan. Kami membangun education park, yaitu kawasan industri pendidikan agar daya saing Jababeka dan Indonesia bisa meningkat.

Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, tetapi jika tidak didukung dengan sumber daya manusia yang tangguh maka akan jadi masalah. Untuk itu, kita harus mampu mempersiapkan SDM yang tangguh. Pendidikan yang terbaik itu melalui praktek. Teori dan praktek yang banyak. Tempat praktek menjadi penting. Dengan adanya 1.400 pabrik lebih dari 29 negara, Jababeka menjadi pusat praktek yang menarik. Problemnya adalah bagaimana menyambung kebutuhan pendidikan dengan pabrik-pabrik yang butuh tenaga terampil. Maka, kami bangunlah education park tujuh tahun yang lalu dengan mendatangkan tenaga-tenaga pendidik dari universitas-universitas yang baik, terutama yang mau mengubah pola dari banyak teori ke praktek.

President University merupakan pionir di Jababeka. Lima tahun yang lalu kami juga membangun Akademi Tehnik Mesin Cikarang dan akan berekspansi lebih besar lagi. Begitu pula dengan President University yang berkembang dengan fakultas-fakultas yang baru.

Kami juga mendirikan research center yang bertujuan untuk melihat apa sebetulnya yang menjadi kekuatan Indonesia. Kekuatan Indonesia terletak pada flora dan fauna atau sumber daya alam (SDA) yang kuat. SDA yang kuat ini harus diolah teknologinya. Jadi, riset kami pertama harus memanfaatkan bioteknologi, sehingga tumbuh-tumbuhan di Indonesia, apakah dari perkebunan, pertanian, buah-buahan, sayuran, dan lain-lain, bisa diolah dan memberikan nilai tambah yang tinggi lewat bioteknologi. Pengembangan bioteknologi ini kami terjemahkan dengan membangun medical city seluas 74 hektare. Lahan tersebut akan menjadi kawasan industri kesehatan yang didukung dengan kawasan pendidikan.

Jadi, Jababeka akan lebih fokus pada pembangunan kawasan pendidikan dan kesehatan?

Sebenarnya kami punya tiga pilar. Pilar pertama adalah bioteknologi, yaitu mengelola kekayaan alam kita dengan teknologi bio, kemudian diterjemahkan di lapangan dalam membangun proyek medical city. Pilar kedua kami adalah pengembangan seni dan budaya. Kita ini memiliki lebih dari 3.000 etnik atau suku yang mempunyai budaya yang berbeda-beda. Ini harus dimanfaatkan dalam bidang art and design.

Tuhan menciptakan alam ini dengan kebinekaannya dan itulah kekuatan Indonesia. Kita mempunyai Bhinneka Tunggal Ika. Nah, kebinekaan ini harus dikelola dan diterjemahkan dalam bentuk riset art and design. Melalui art and design, kita bisa kuat dalam pemasaran produk kita. Contohnya, batik, kalau dipakai menjadi sarung mungkin harganya Rp20.000‒30.000, tetapi begitu menjadi painting, harganya bisa menjadi puluhan juta rupiah.

Negara kita kaya sekali akan budaya. Coba saja datang ke Sarinah Department Store. Begitu banyak kerajinan dari Sabang sampaiMerauke terpajang di sana, tetapi nilainya tidak tinggi karena belum diterjemahkan dalam bentuk art and design. Itu sebabnya kita harus melakukan riset. Selain itu, kita juga harus mendidik anak-anak kita agar bisa membuat barang-barang yang sebetulnya murah, tetapi karena dikemas dengan bagus dan didesain dengan baik plus ditampilkan sebagai art sehingga menjadi mahal. Nah, itu semua diterjemahkan di Jababeka dengan membangun movie land seluas 36 hektare.

Movie atau film itu menyangkut art, design, fashion, dan sebagainya. Film kan tidak hanya sebagai tontonan belaka, tetapi juga bisa sebagai pendidikan, sehingga kami buat kawasan industri perfilman yang disebut Indonesia Movie Land atau akan menjadi Hollywood-nya Indonesia. Saat ini setidaknya sudah ada tiga investor yang tengah menjajaki pembangunan studio, yakni Multivision, Castle Aviga, dan satu investor asing asal Perancis.

Pilar ketiga adalah informasi dan komunikasi teknologi. Kalau kita mau mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan, pemasaran, teknologi, dan lainnya dari negara-negara maju, maka kita harus memanfaatkan dan mengembangkan ICT. Kalau anak-anak kita bisa menggunakan komputer, akses ke internet, dan bisa mengembangkan perangkat lunak di bidang informasi dan teknologi, maka kita bisa cepat majunya. Dengan ICT, anak-anak bisa cepat belajar bahasa asing dan mereka bisa cepat berhubungan dengan negara-negara lain sehingga tidak ada lagi barrier untuk belajar. Apa yang terjadi di Amerika hari ini, kita juga bisa belajar hari ini. Gap waktu menjadi tidak ada karena apa yang dipelajari anak-anak Amerika hari ini, anak-anak Indonesia di mana pun bisa mempelajarinya juga dalam waktu yang sama, sehingga ICT itu memang harus dikuasai. Maka, pilar ketiga kami dengan membangun kawasan industri cyber. ICT park kami bangun. Di sana kami sudah membangun training center hibah dari Korea senilai US$10 juta. Nah,dengan ketiga pilar ini, kami menjadi lengkap.

Ini adalah kreasi-kreasi supaya kita mampu mengubah potential demand menjadi existing demand. Potensi kita tinggi, tetapi belum eksis. Kalau kita bicara tentang sumber daya, kita kaya sekali akan sumber daya, baik alam maupun manusia. Sumber daya manusia kita banyak sekali, lebih dari 200 juta jiwa. Namun, itu semua belum existing,baru potensi. Maka, kita harus mampu mengonversikan semua itu menjadi existing demand setahap demi setahap.

Seperti apa konsep medical city yang akan dibangun Jababeka?

Medical city yang akan kami bangun benar-benar terintegrasi, lengkap, dan terpadu. Kami akan buat rumah sakit umum, tetapi memiliki spesialisasi jantung. Kalau jantung menjadi spesialisasi, maka yang lainnya juga akan menjadi bagus sebab komplikasinya tidak hanya jantung, tetapi juga menyangkut liver, ginjal, dan segala macam.

Rumah sakit ini untuk melayani karyawan dari 1.400 pabrik yang ada di sana beserta penduduk Cikarang. Para karyawan pabrik dan penduduk di sana merupakan pasar yang besar. Saat ini sudah lebih dari satu juta orang yang tinggal di daerah sana.

Medical city juga harus didukung fakultas kedokteran, perawat yang berbahasa Inggris, dan tenaga-tenaga asing, serta memanfaatkan teknologi mutakhir. Kami juga akan bangun center laboratorium. Selain itu, kami juga akan bangun hotel untuk menampung orang-orang di seluruh Indonesia dan dari negara lain yang berobat. Ini menjadi kesempatan untuk mengembangkan industri kesehatan Indonesia setaraf internasional.

Kami berharap, dengan adanya rumah sakit bertaraf internasional ini, masyarakat saat ini yang gemar berobat ke luar negeri bisa berobat di dalam negeri. Kalau masyarakat berobatnya ke luar negeri, itu merupakan disinsentif bagi perekonomian Indonesia akibat terbuangnya devisa negara.

alt

Berapa besar nilai investasi untuk semua proyek tersebut?

Saya biasanya hitung-hitungannya begini, setiap satu meter persegi memerlukan investasi Rp10 juta. Jadi, kalau 36 hektare untuk kawasan perfilman berarti membutuhkan investasi Rp3,6 triliun. Maka, kalau 74 hektare untuk medical city, maka investasinya sekitar Rp7,4 triliun. Ini baru hitungan kasar saja.


Dari mana pendanaannya?

Kami memang tidak akan mampu mengerjakan semuanya sendiri, tetapi kami menyediakan lahan dan sumber daya manusia dan juga pembangunan-pembangunan dasar. Maka, pendanaannya berasal dari pembeli, bank, dan investor yang tertarik bekerja sama. Kami juga berencana melakukan rights issue dan menerbitkan obligasi.


Berapa besar obligasi yang akan diterbitkan dan kapan waktu penerbitannya?

Saat ini memang belum apa-apa, tetapi kami harus kerjakan, secepatnya. Begitu ekonomi mulai membaik, kami akan terbitkan. Kalau kami menerbitkan saat ini percuma saja karena pasarnya juga sedang lesu.

Di tengah krisis seperti ini, Jababeka tetap membangun dan menjalankan proyek-proyek itu. Apakah krisis ini tidak berdampak terhadap Jababeka?

Kalau bicara tentang krisis, ya jelas semua sedang terkena. Cuma, kalau kita bandingkan dengan negara lain, kita ini paling kecil dampaknya. Ekonomi yang paling bagus di dunia saat ini kan Cina, India, dan Indonesia. Ketiga negara ini kan yang diprediksi masih akan tumbuh. Jadi, kalau kita tidak berani berpikir positif dan berani bertindak, maka kita akan kehilangan kesempatan. Yang penting inovasi dan keberanian bertindak. Menghadapi krisis ini jangan takut, tetapi harus berani. Merah putih harus disadari maknanya, yaitu berani karena benar. Krisis ini bukan karena kita, tetapi karena Amerika Serikat. Justru saat ini kami harus mengambil kesempatan untuk terus menjalankan rencana yang ada.


Kapan target penyelesaian proyek-proyek tersebut?

Saya tidak akan meramalkan. Pembangunan itu harus berjalan terus, sebab ini bukan pabrik. Konsep kami kan mengubah potential demandmenjadi existing demand. Ini pembangunan yang terus berkelanjutan.

Dulu Jababeka juga sempat berencana membangun kawasan energi atau energy city. Sejauh mana realisasi proyek tersebut?

Tiga tahun lalu memang ada investor dari Qatar yang ingin membuatenergy city. Saat ini kami masih menunggu itu karena mereka juga masih melihat-lihat kondisi Indonesia. Konsep energy city sendiri adalah berkumpulnya para pemain industri energi di satu tempat untuk bisa mengembangkan energi, networking, dan sebagainya. Mungkin itu lain waktu akan kami kembangkan. Sekarang kami belum siap betul. Infrastruktur kami belum mendukung. Jalan tol harus diperbaiki dulu, ditambah masalah lapangan terbang yang juga harus dibangun di Bekasi, serta kami juga harus membangun pelabuhan. Jadi, Indonesia masih butuh waktu dan saat ini masih belum tepat. Singapura saja belum kok.

07.13

KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk,

Jababeka siapkan lahan 30 ha

JAKARTA: PT Jababeka Tbk menyiapkan lahan hingga 30 hektare untuk menampung masuknya investor di kawasan industri perusahaan itu di Cikarang pada 2010.

Perusahaan juga menargetkan sejumlah pengembangan bisnis dalam upaya menjadikan kawasan yang dikelolanya sebagai magnet perekonomian seperti Jakarta.

Menurut S.D. Darmono, CEO PT Jababeka Tbk, melalui pengembangan bisnis yang berbasis perumahan dan lapangan kerja itu dapat memunculkan stimulus pertumbuhan di daerah, khususnya di kawasan Cikarang, Bekasi.

Dia mengklaim kesuksesan mendatangkan 1.450 pabrik dari 30 negara membuat Jababeka tertarik mengembangkan penyediaan lahan dan pembangunan pabrik. Pada tahun mendatang, dia menyebutkan ada 20 hektare-30 hektare lahan siap bangun untuk pabrik. Saat ini perusahaan itu mengelola lahan 1.570 ha.

"Kami siapkan semua infrastruktur, sehingga investor mudah untuk membangun. Atau kami tawarkan pabrik siap pakai," tutur Darmono kepada Bisnis, pekan ini.

Jababeka, katanya, juga akan menjual 1.000 unit apartemen murah dengan kisaran harga Rp150 juta-Rp200 juta per unit. Hingga kini, Jababeka sudah memiliki 288 unit yang telah berpenghuni.

Darmono menuturkan bisnis Jababeka terkonsentrasi dalam membangun rumah dan membangun lapangan kerja. Terkait dengan bisnis perumahan 2010, dia optimistis akan ada peningkatan kebutuhan yang signifikan.

21.31

KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk,

Kapitalisasi Jababeka Capai Rp2 Triliun
Meskipun kalah agresif dibanding pengembang lain macam PT Bakrieland Development Tbk dan Agung Podomoro Group, PT Jababeka Tbk diam-diam memiliki kapitalisasi aset senilai lebih dari Rp 2 triliun. Angka ini tercipta berkat amannya aset-aset mereka dari intaian pihak lain saat melakukan restrukturisasi hutang beberapa waktu lalu.
Sebut saja Kawasan Industri (KI) Jababeka seluas 1.580 Ha. KI ini kini bernilai Rp853 miliar. Sementara KI Cilegon yang seluas 800 Ha berkapitalisasi Rp960 miliar. Ini belum termasuk 1.500 Ha Perumahan Graha Buana Cikarang senilai Rp 675 miliar, KI Indocargo Mas (200 Ha) Rp 108 miliar, tanah Batavia Perkasa (Rp150 miliar) dan Padang Golf Cikarang (40 Ha) dengan nilai Rp 200 miliar.

Selain itu, Jababeka juga masih memiliki 1.500 Ha lahan yang belum digarap di Tanjung Lesung, Banten senilai Rp 807 miliar, aset properti komersial Batavia City Realty yang popular dengan sebutan Menara Batavia di Jakarta (Rp112 miliar), Plaza Jababeka (Rp38 miliar) dan Tanjung Lesung Resort dengan lahan seluas 18.300 Ha, yang ditaksir bernilai Rp18 miliar.

06.52

KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk,

Jababeka Investasi Rp 200 Miliar Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
11/09/2009 11:31:14 WIB
JAKARTA, INVESTOR DAILY
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menyiapkan dana Rp 200 miliar untuk tahap awal pembangunan pelabuhan darat (dry port) di kawasan industri Cikarang tahap III, Jawa Barat. Pembangunan tahap awal itu dilakukan di area seluas 10 hektare (ha) dari total luas area dry port yang disiapkan sebesar 100-200 ha.


“Pembiayaan tahap pertama dari kas internal kami, partner, dan hasil penjualan lahan, serta pinjaman bank. Hingga kini kami belum berniat melakukan penerbitan saham baru (right issue),” ujar Presiden Direktur Jababeka SD Darmono di sela buka puasa bersama manajemen dengan wartawan di Jakarta, Rabu (9/9).

Darmono menuturkan, total investasi untuk pembangunan dry port itu diperkirakan menelan dana sekitar Rp 2 triliun. Jababeka akan menggandeng satu atau dua mitra strategis untuk melakukan megaproyek ini. Perseroan tetap berupaya menjadi pemegang saham mayoritas di proyek ini dengan porsi di bawah 50%.

Pembangunan dry port, ujar Darmono, merupakan usulan dari Ditjen Bea dan Cukai Departemen Keuangan (BC Depkeu). BC meminta pengerjaan tahap pertama dapat rampung dalam 100 hari.

Dengan adanya dry port, proses pengurusan dokumen kepabeanan dapat dilakukan di kawasan industri. Imbasnya, kontainer tidak perlu melakukan proses clearance saat di pelabuhan laut.

Sekretaris Perusahaan Jababeka Muljadi Suganda menambahkan, proses pemancangan tiang pertama ditargetkan pada akhir tahun ini ditandai dengan pembangunan container yard. Fasilitas container yard sebelumnya sudah ada di kawasan Gedebage, Bandung, Jawa Barat.

“Kami belum tahun kapan proyek ini akan rampung. Yang pasti kami membuka diri untuk joint venture dengan pihak asing,” katanya.

Darmono menyatakan, hingga kini Jababeka memiliki 400 ha lahan kawasan industri yang belum digunakan. Sedangkan sekitar 600 ha lahan perumahan milik perseroan juga belum digunakan optimal. Jababeka juga masih memiliki 700-800 ha lahan yang belum digunakan di Cilegon.

Karena itu, Jababeka belum berniat menambah lahan dalam waktu dekat. Sebab, pasokan lahan untuk kawasan industri masih berlebih.

Darmono menilai, masih tingginya jumlah lahan yang belum terpakai dipicu resesi finansial global yang terjadi pada akhir tahun lalu. Krisis global membuat produksi manufaktur anjlok sekitar 30%. Alhasil, hanya sedikit perusahaan manufaktur sedikit yang memperluas pabrik.

“Untungnya industri kreatif saat ini sedang naik sehingga kami menyiapkan pembangunan sebuah lahan perfilman,” katanya.

07.27

KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk,

Jababeka Cetak Kenaikan Laba 14,52% Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail

JAKARTA, INVESTOR DAILY
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) meraih kenaikan laba bersih semester I-2009 sebesar 14,52% menjadi Rp 34,85 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 30,43 miliar.
“Penurunan beban usaha perseroan disertai perolehan keuntungan selisih kurs menopang pertumbuhan laba bersih perseroan. Meskipun, pendapatan turun sekitar 15,76% dari Rp 229,059 miliar menjadi Rp 192,95 miliar,” ujar Sekretaris Perusahan Kawasan Industri Jababeka Budianto Liman dalam pernyataan resminya kepada BEI di Jakarta, pada Selasa (25/8).
Penurunan pendapatan sebesar 15,76% berdampak negatif terhadap laba usaha yang ikut terkoreksi hingga 17,77 % menjadi Rp 48,145 miliar dari posisi semester I-2008 mencapai Rp 58,55 miliar. Sedangkan, keuntungan selisih kurs Jababeka melonjak drastis dari Rp 6,24 miliar menjadi Rp 52,52 miliar.
Jababeka membukukan total aset hingga semester I-2009 mencapai Rp 3,17 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 2,94 triliun. Nilai utang kepada bank dan lembaga keuangan juga naik dari Rp 993,22 miliar menjadi Rp 1,3 triliun.
Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Jababeka Mulyadi Suganda mengatakan, perseroan berencana membangun terminal peti kemas (dry port) tahap awal senilai Rp 200 miliar. Terminal seluas 6-10 hektare (ha) yang segera dibangun itu berlokasi di Cikarang, Jawa Barat. ”Total luas terminal yang akan dibangun mencapai 75-150 ha. Namun, kami belum tahu total dana yang diperlukan untuk pengembangannya,” tuturnya.
Mulyadi menjelaskan, Jababeka merupakan salah satu perusahaan yang dipertimbangkan untuk menggarap proyek percontohan (pilot project) dengan Ditjen Bea dan Cukai. Namun, pemerintah belum menentukan pihak yang akan ditunjuk untuk membangun terminal tersebut. Pemerintah telah menentukan tiga titik pembangunan terminal di wilayah timur (Cikarang), selatan (Bogor), dan barat (Tangerang).
Perseroan juga sedang membangun kawasan perfilman (movie land) senilai Rp 3,6 triliun di wilayah Cikarang, Jawa Barat. Jababeka mengalokasikan lahan seluas 36 hektare untuk kawasan movie land yang ditawarkan dengan harga sebesar Rp 10 juta per meter persegi.
Kawasan tersebut akan menyediakan studio perfilman, seperti di kawasan Hollywood, Amerika Serikat. Selain itu, pihaknya juga akan menyediakan penyewaan peralatan, kamera, kostum, dan sebagainya. Sejauh ini ada tiga investor yang berniat membangun studio di kawasan itu, yakni rumah produksi Multivision, Castle Aviga, dan satu investor asing asal Perancis.
Jababeka juga sedang membangun pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU), yaitu Bekasi Power, dengan nilai investasi mencapai US$ 141 juta. PLTGU Bekasi Power berkapasitas 130 megawatt dan dihrapkan mulai beroperasi tahun 2010. Pasokan listrik PLTGU Bekasi Power digunakan untuk menyuplai pasokan listrik kawasan Jababeka.

08.05

KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk

Jababeka Bangun Hollywood Rp 3,6 Triliun

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) akan menyelesaikan pembangunan pusat industri perfilman yang dinamakan Movieland dalam beberapa tahun ke depan.

Rencananya, proyek tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 36 hektar (Ha) yang sudah disediakan sepenuhnya oleh perseroan.

Namun belum dapat dipastikan kapan Movieland ini akan selesai dibangun. Mekanisme penggarapan proyek ini adalah, KIJA akan menyediakan lahan dan fasilitas yang nantinya akan disewakan pada para produsen film.

Saat ini sudah ada 3 perusahaan perfilman yang tengah membangun studio di area Movieland.

"Yang sedang bangun studio antara lain Multivision dan perusahaan film dari Prancis. Kita juga kerjasama dengan Pusat Perfilman Nasional,"

Mengenai pendanaan proyek tersebut, akan diperoleh dari hasil penjualan lahan di kawasan tersebut.

"Harga per meter Rp 10 juta, totalnya sekitar Rp 3,6 triliun. Sisanya diperoleh dari perusahaan yang investasi disini,"

Dry Port Cikarang
Selain itu, perseroan juga akan menyelesaikan pembangunan proyek Dry Port untuk pengangkutan barang produksi pabrik yang berasal dari kawasan industri di Cikarang.

"Tahap awal kita mulai 10 hektar dulu di Cikarang," (sudah selesai Juli 2009)
rencana : perseroan akan mengembangkan Dry Port hingga 200 Ha dalam 10 tahun ke depan.

"Nanti kita akan kembangkan juga di kawasan Selatan dan Barat, tinggal tunggu pembicaraan dengan Dirjen Bea dan Cukai," pungkasnya.

Bekasi Power
Pembangunan PLTG Cap.130MW

Progress : 75%, dana yg sudah dipergunakan : USD 141 juta
Start Beroperasi :
Tahap I : 40MW (akhir Agustus 2009)
Tahap II: 40MW ( Desember 2009)

Kebutuhan Listrik Jababeka saat ini 250 MW (Juli 2009)
Daya listrik yg tersedia saat ini 150 MW


PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) merasa optimis kinerja 2010 akan lebih baik dibanding tahun ini dan dapat kembali mencatatkan laba. Dengan mengandalkan proyek infrastruktur, laba tahun ini diperkirakan sebesar Rp 121 miliar.

Presiden Direktur KIJA S.D Darmono, di Menara Batavia Jakarta, Jumat (24/7). ""Kalau tahun ini, saya kira tidak ada perubahan target dari yang sudah dicanangkan. Semoga lebih baik pada 2010, jadi infrastruktur harus ditingkatkan," ujarnya.

Menurut riset BNI Securities, tahun ini perseroan diproyeksikan dapat mencatatkan laba bersih sebesar Rp 121 miliar dan pendapatan sebesar Rp 868 miliar.

Beberapa infrastruktur yang akan ditambah untuk memperkuat kinerja Jababeka antara lain pembangunan dryport dan pengoperasian Bekasi Power.

Dryport sendiri akan mempermudah pengiriman barang, dan memotong biaya pengeluaran terutama administrasi. Sedangkan Bekasi Power untuk memperkuat pasokan listrik Jababeka, yang baru akan beroperasi Agustus 2009. "Kalau harga jual listriknya, kita masih menunggu PLN," ujarnya.

Sebelumnya, kinerja perseroan sejak 2008 hingga kuartal I 2009, masih mencatatkan kerugian. Jababeka mencatat kerugian kurs dengan adanya pinjaman senilai US$ 88 juta untuk mendanai pembangunan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) di kawasan industri III. Akibatnya, pada 2008, Jababeka mencatat rugi bersih Rp 12 miliar dibandingkan laba bersih Rp 31 miliar pada 2007.

Sedangkan pada kuartal I 2009, kerugian yang tercatat mencapai Rp 59,65 miliar