00.27

PTBA Bukit Asam Tbk

Juni 2009, Bukit Asam mengumumkan kesepakatan harga penjualan baru untuk pembangkit listrik Bukit Asam dan Tarahan. Harga ditetapkan di level Rp 407.500 atau US$ 37 untuk Bukit Asam dan Rp 525.000 atau US$ 47,7 per ton untuk Tarahan.

PTBA sedang mempersiapkan langkah-langkah akuisisi dengan menyediakan dana internal Rp 1,5 triliun dari total dana internal Rp 3 triliun. Langkah ini diyakini akan memperkuat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih, diikuti peningkatan cadangan.

Peluang ekspansi perseroan masih terbuka lebar, mengingat kondisi kas yang cukup sehat, dengan debt to equity ratio (DER) dalam posisi net cash. Ini berarti nilai utang lebih kecil dari dana tunai internal yang dimiliki.

23.44

BUDI Budi Acid Jaya Tbk

JAKARTA. Hingga paruh 2009, PT Budi Acid Tbk (BUDI) sudah merampungkan empat Pembangkit Listrik Tenaga Bio Gas (PLTBG) dari delapan PLTBG yang akan mereka bangun tahun ini. Total investasi proyek PLTBG ini mencapai US$ 30 juta.

Kapasitas empat PLTBG yang sudah rampung itu sekitar 15 megawatt (MW). "Namun saat ini PLTBG yang sudah selesai itu baru mampu mengalirkan listrik sekitar 10 MW," kata Mawarti Wongso, Sekretaris Perusahaan BUDI, kemarin (6/7).

Adapun total kapasitas listrik delapan PLTBG mencapai 25 MW. Target penyelesaian empat PLTBG yang lain adalah tahun depan.

Perusahaan ini akan memanfaatkan aliran listrik dari delapan PLTBG tersebut untuk menjalankan mesin pabrik pengolahan tepung tapioka.PLTBG yang semuanya berada di Lampung ini memanfaatkan limbah cair dari produksi tepung tapioka.

Pengoperasian PLTBG itu sanggup menekan biaya operasional BUDI. Dari pengoperasian empat PLTBG itu saja, BUDI bakal menghemat biaya operasional sekitar US$ 7 juta per tahun.

Mawarti menambahkan, tahun ini BUDI hanya membutuhkan dana sekitar US$ 7 juta bagi penyelesaian empat pembangkit lagi.

Selain dari kas internal, BUDI menggandeng Nedo Fund dari Jepang dan Cargill dari Amerika Serikat untuk mendanai proyek ini. Namun sebagian besar anggaran pembangkit BUDI berasal dari pinjaman kepada Bank Mandiri. "Jumlahnya sekitar 75% dari total proyek atau sekitar US$ 22,5 juta," ujarnya.

Tahun ini BUDI berencana menaikkan 20% produksi tepung tapioka menjadi 600.000 ton. Tahun lalu, BUDI memproduksi tepung tapioka sebanyak 500.000 ton.

23.37

BLTA Berlian Laju Tanker Tbk



JAKARTA. PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) seperti mendapat rezeki nomplok. Perusahaan tanker ini berhasil meraih kontrak pengangkutan gas alam cair atau liquified natural gas (LNG) Tangguh dari BP Tangguh. Masa kontrak itu berlaku selama 20 tahun.

Kemarin (6/7), kapal pertama BLTA berlayar dari Tangguh menuju Korea Selatan. Berkat berita itu, harga saham BLTA pun melesat. Bahkan kemarin, harga saham BLTA naik ke titik tertinggi sepanjang tahun ini, yakni Rp 960 per saham.

Perusahaan perkapalan terbesar di Indonesia ini akan menggunakan dua unit tanker berkapasitas 155.000 kaki kubik gas (cubic feet of gas) untuk memenuhi kontrak Tangguh. BLTA meneken dua buah kontrak. Yang pertama pada Desember 2008, sementara kontrak kedua Mei 2009.

Analis Bhakti Capital Securities Reza Nugraha bilang, kontrak ini menguntungkan kedua belah pihak. Bagi BP Tangguh, kontrak dengan perusahaan pengangkutan berbendera Indonesia saat ini lebih hemat daripada menunggu asas cabotage berlaku. Sebab saat itu, tarif penyewaan kapal Indonesia pasti naik.

Bagi BLTA, kontrak ini jelas mempertebal kantongnya. "Kontrak ini akan memberi kepastian pendapatan jangka panjang," kata Reza, kemarin.

Namun, Kepala Riset Financorporindo Nusadana Edwin Sebayang berpendapat, kontribusi kontrak LNG Tangguh tidak terlalu berpengaruh ke pendapatan BLTA. "Kontribusi kontrak itu hanya 5% tahun ini," kata Edwin. Alasannya, hingga kini BLTA memiliki satu kapal LNG. Sedang 87 unit kapal BLTA lainnya merupakan tanker bahan kimia dan minyak bumi.

Menambah armada

Namun secara umum, sentimen positif masih bertiup ke BLTA serta perusahaan pelayaran lokal. Maklum, tahun depan asas cabotage mulai berlaku. Asas cabotage mewajibkan penggunaan maskapai pelayaran lokal bagi pengangkutan domestik.

Guna menyambut asas itu, BLTA akan menambah 14 unit kapal baru selama periode 2009-2014. Total kebutuhan dananya US$ 450 juta.

Sebagai permulaan, tahun ini BLTA mendatangkan empat kapal dari Jepang. Yakni, tiga kapal tanker pengangkut bahan kimia serta satu kapal pengangkut gas alam cair (LNG carrier). "LNG carrier itu untuk mengangkut gas alam cair BP Tangguh," kata Widihardja Direktur Utama BLTA, kemarin.

Tahun ini, BLTA juga bersyukur harga minyak lebih rendah dari tahun lalu. Soalnya, ini akan memangkas biaya operasional BLTA.

Namun, krisis global melemahkan permintaan angkutan ke Eropa. Karena itu, Reza melihat, kontribusi anak usaha BLTA, Chembulk Tankers, akan merosot. Sisi positifnya, rugi kurs takkan membayangi BLTA lantaran rupiah stabil.

Maka, Reza memprediksi laba bersih dan pendapatan BLTA naik 5% dari tahun lalu. Ia pun merekomendasikan beli saham BLTA dengan harga wajar Rp 980 per saham.

Di pihak lain, Edwin menghitung pendapatan BLTA di 2009 akan turun 4,28% menjadi Rp 6,7 triliun. Laba bersihnya akan merosot 6,6% menjadi Rp 1,4 triliun. Itu di luar asumsi pendapatan dari kontrak Tangguh. Ia pun merekomendasikan tahan. "Sampai kita tahu nilai kontrak dari BP Tangguh," ujarnya..

BLTA akan berusaha merebut 21% pasar kapal tanker di domestik yang sekarang masih berbendera asing. Kapasitas kapal BLTA 2,1 juta dead weight ton (dwt).

Tahun lalu ada 89 kapal yang beroperasi, tahun ini ditargetkan jadi 92 kapal BLTA yang beroperasi.Pada 2012, diperkirakan kapal baru tanker akan bertambah 10 unit dan untuk gas empat unit. Sedangkan yang akan masuk tahun ini adalah satu tanker kimia. Sedangkan untuk 2010 akan ada lima kapal masuk terdiri dua gas dan tiga chemical

23.23

CEKA Cahaya Kalbar Tbk

Cahaya Kalbar Sells Unit for IDR22.559 Bn

Tuesday, 7 July 2009 12:12:30
StockWatch (Jakarta) - The management of chocolate processing company PT Cahaya Kalbar Tbk (CEKA) on July 3, 2009, sold the company's 99.99% stake of PT Inti Cocoa Abadi for IDR22.559 billion, corporate secretary Emanuel Dwi Iriyadi said.

Iriyadi said Cahaya Kalbar sold 70% stake at Inti Cocoa Abadi to PT Wilmar Nabati Indonesia - an affiliated company which is located in Dumai - for IDR15.792 billion, and 29.99% stake to PT Natura Wahana Gemilang - also an affiliated company which is located in Medan - for IDR6.767 billion, so the total transaction is IDR22.559 billion.

He said further that the stakes have been sold for the sake of efficency because Inti Cocoa Abadi has stopped production since April 2005. All production machines and their supporting equipments have been sold, he said, and the proceeds of the sale will be used for repaying the company's debt.

In a public information submitted to the Indonesia Stock Exchange (IDX) today (Tuesday 7/7) in Jakarta, he said the stake sale will bring additional cashflow for the company, will reduce loan interest expense, and eliminate the loss caused by Inti Cocoa Abadi's unused asset.

He said the company appointed independent appraisal PT Inti Utama Penilai to evaluate the fairness of the transaction, and the resulf of evaluation shows that the transaction is fair and will not trigger a loss to the shareholders. Besides, the transaction is not material and will not lead to conflict of interest.

Wilmar Nabati Indonesia is active in vegetable food processing and basic chemicals that are based on agriculture, while PT Natura Wahana Gemilang operates in general trade, mining and natural resources.

07.33

ASII Astra International Tbk

PT Astra International Tbk.: Bertahan berkat Catur Dharma

Selain teguh menerapkan nilai-nilai perusahaan, kemampuannya menghasilkan pemimpin-pemimpin usaha yang andal juga menjadi salah satu kunci sukses Astra selama ini.

Pada 20 Februari 1957, William Soeryadjaya dan adiknya, Tjia Kian Tie, mendirikan sebuah perusahaan yang merupakan cikal bakal Astra International. Awalnya perusahaan itu hanya bergerak di bidang perdagangan hasil bumi dan barang-barang lainnya, seperti bahan makanan kaleng, bahan bangunan, dan peralatan kantor.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan yang bermarkas di Sunter ini kemudian mengembangkan usahanya di bidang otomotif, perkebunan, dan alat berat. Kemudian, pada 1980, perusahaan ini resmi tercatat di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) dan statusnya menjadi perusahaan terbuka.

Kini, di bawah kepemimpinan Michael Darmawan Ruslim, Astra telah memiliki sekitar 121 anak usaha yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia.

Berbagai penghargaan pernah diterima Astra. Kinerja perusahaan pun selalu gemilang. “Apa pun yang kami lakukan, harus excellent.

Semuanya berasal dari Catur Dharma,” kata Michael Darmawan Ruslim, presiden direktur PT Astra International Tbk., beberapa waktu lalu. Catur Dharma merupakan nilai-nilai yang dipegang Astra secara terus-menerus, yang menjadi spirit dalam mengembangkan diri dan memberi nilai tambah kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholder).

Nilai-nilai itu adalah: bermanfaat bagi bangsa dan negara, pelayanan yang terbaik bagi pelanggan, saling menghargai dan membina kerja sama, serta berusaha mencapai yang terbaik.

Tidak sekadar penerapan nilai, ketersediaan sumber daya manusia yang andal juga menjadi salah satu kunci sukses yang dimiliki Astra.

Lewat program talent management, Astra sejak awal telah mengidentifikasi, mengelola, dan mengembangkan para talent organisasi yang dipersiapkan untuk menjadi kader-kader pemimpin organisasi masa depan.

Maka, tidak mengherankan jika Astra pernah berhasil mencetak pemimpin-pemimpin yang unggul dalam menjalankan Astra, seperti T.P. Rachmat, Rini Soewandi, Subagio Wirjoatmodjo, Budi Setiadharma, Muhamad Tohir, Palgunadi T. Setyawan, dan Michael D. Ruslim.

Akan tetapi, pada kuartal I-2009 PT Astra International Tbk. mencatat penurunan laba bersih sebesar 17% menjadi Rp1,875 triliun dari Rp2,249 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Agaknya performa Astra juga terpengaruh oleh krisis ekonomi global.

Menanggapi krisis keuangan global yang terjadi sejak tahun lalu, Michael menyikapinya dengan bijak. Ia yakin, strategi yang telah dibangun jauh sebelum krisis terjadi bisa membawa Astra keluar dari krisis.

“Di sisi internal, harus ada komunikasi antara satu bagian dan bagian lain dan kreatif mencari solusi. Saya tidak bisa memotong strategi yang telah dirumuskan sebelumnya. Namun, saya yakin perusahaan mampu melewati krisis ini dengan baik,” ujar Michael, optimistis.

07.09

BBCA Bank Central Asia Tbk

PT Bank Central Asia Tbk.: Jatuh Bangun Mengejar Keabadian

Bank berusia 52 tahun ini berhasil melewati ujian terberatnya pada masa krisis 1997. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi andalan.

Pada 21 Februari 1957 BCA resmi berdiri dengan nama Bank Central Asia NV. Bank yang didirikan oleh Sudono Salim ini sekarang dikenal sebagai bank yang memanfaatkan betul teknologi informasi untuk layanan perbankannya. Ia punya jaringan ATM sendiri.

Kini, BCA memiliki lebih dari 8 juta rekening nasabah yang dilayani oleh 852 cabang, 6.137 ATM, dan 80.293 EDC (Electronic Data Capture) yang tersebar di seluruh Indonesia. BCA juga mengembangkan layanan perbankan melalui internet dan telepon selular.

Tahun 2009 ini BCA berencana menambah 700 ATM dengan nilai investasi sekitar US$10 juta.

Dengan usianya yang telah melewati setengah abad, BCA sudah melalui banyak rintangan.

Salah satu yang terberat adalah saat krisis moneter 1997. Ketika itu BCA mengalami penarikan dana nasabah secara besar-besaran (rush) yang dipicu krisis kepercayaan kepada dunia perbankan. Akibatnya, BCA diambil alih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), pada 1998.

Setelah diambil alih BPPN, pada tahun yang sama kinerja BCA berhasil pulih. Pada Desember 1998, dana pihak ketiga telah kembali ke tingkat sebelum krisis.

Aset BCA mencapai Rp67,93 triliun, padahal pada Desember 1997 hanya Rp53,36 triliun.

Pada 2000, BCA melakukan penawaran saham perdana. Mereka menjual 22,55% saham yang berasal dari divestasi BPPN. Kejutan terjadi pada 2002 ketika BPPN melepas 51% sahamnya di BCA melalui tender penempatan privat yang strategis.

Farindo Investment, Ltd., yang berbasis di Mauritius, memenangkan tender tersebut. Farindo sendiri 90% sahamnya dimiliki Farallon Capital, sementara sisanya ada di tangan dua bos Djarum, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, melalui Alaerka Investment.

Anthony Salim, pemilik lama BCA, masih menguasai 1,76% saham.

Pada kuartal I-2009 BCA berhasil membukukan kinerja keuangan yang baik. Laba bersih naik 41,8% menjadi Rp1,63 triliun dari periode yang sama tahun lalu yang cuma Rp1,15 triliun.

Sayangnya, kenaikan laba ini juga diikuti dengan kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) menjadi 1,6%. Selain itu, total kredit yang dikucurkan turun Rp5,5 triliun menjadi Rp107,27 triliun pada kuartal I-2009. "Adapun penurunan kredit lebih karena faktor siklikal, karena pada awal tahun banyak emiten yang melunasi kredit," tutur Djohan Emir Setijoso, direktur utama PT Bank Central Asia Tbk., seperti dikutip Bisnis Indonesia.

06.51

TRUB Truba Alam Manunggal Tbk

Truba Manunggal's 1Q Loss IDR147.788 Bn

Monday, 6 July 2009 14:28:30
StockWatch (Jakarta) - PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) which is active in mining and power plant construction booked net loss of IDR147.788 billion in the first quarter of 2009 versus net profit of IDR169.356 billion in the same period of 2008.

Truba Alam's financial report filed at the IDX today (Monday 6/7) that net loss was triggered by other expenses that reached IDR170.475 billion versus other revenues that reached IDR81.928 billion, as well as foreign-exchange (forex) loss of IDR159.983 billion and interest expense of IDR19.953 billion.

Revenue was up 42.89% at IDR878.171 billion from IDR614.544 billion but operating revenue increased 27.67% at IDR65.659 billion from IDR51.427 billion, so operating profit stumbled 66.29% at IDR48.356 billion from IDR143.465 billion.