07.26

TINS Timah Tbk


JAKARTA. Cadangan timah PT Timah Tbk (TINS) bertambah. Juni 2009, TINS menemukan ladang timah baru yang memiliki cadangan terukur 9.327,43 ton timah, dengan potensi 1,36 kilogram timah per meter kubik. Ladang tersebut berada di Kondur dan Belitung, Provinsi Bangka Belitung.


Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin (9/7), Sekretaris Perusahaan TINS Abrun Abubakar mengatakan, proses eksplorasi paruh pertama tahun ini telah menghabiskan belanja modal Rp 10,58 miliar. TINS juga sudah membelanjakan dana operasional sebesar Rp 5,67 miliar.

Pada Juli ini, Abrun menyatakan, TINS akan melanjutkan program pemboran di darat sebagai persiapan penambangan timah di darat. TINS juga akan melanjutkan proses eksplorasi timah di laut guna menemukan lokasi baru pertambangan timah. Untuk keperluan itu, TINS akan melakukan survei di perairan Bangka.

Target penyelesaian pembangunan pabrik tin chemical pada akhir tahun.

Update project pembangunan pabrik di Cilegon, Banten menghabiskan dana Rp70 miliar dengan menggunakan dana kas internal. Dana yang dialoasikan untuk pembangunan modal belanja atau capex.

Rencananya pabrik tin chemical itu, akan memiliki kapasitas produksi 10 ribu ton per tahun.

07.23

ANTM Aneka Tambang Tbk

Antam yakin target produksi tercapai

Dirut PT Antam Alwinsyah Loebis menyatakan hingga akhir Juni produksi emas dan feronikel perusahaan mencapai target atau sekitar 50% terhadap target tahunan.

"Emas dan feronikel, kami optimistis produksinya bisa tercapai dan tren produksinya cenderung mengarah pada pencapaian target. Sampai akhir Juni, produksi emas dan nikel sudah mencapai masing-masing sekitar 50% terhadap target tahunan," tuturnya.

Antam menargetkan produksi feronikel 12.000 ton tahun ini, turun 29,41% dari 2009 yang mencapai 17.000 ton. Hingga kuartal I, produksi feronikel mencapai 3.296 ton atau 27,47% terhadap target tahunan.

Target produksi emas tahun ini mencapai 2,8 ton dengan pencapaian kuartal I sebanyak 715 kg atau 25,54%. Produksi emas Antam ditargetkan mencapai sedikitnya 3,3 ton mulai tahun depan pascaakuisisi 100% PT Cibaliung Sumber Daya.

Namun, Alwinsyah mengatakan produksi bauksit masih belum mencapai target terkait dengan masih lesunya permintaan. Sebenarnya, pencapaian kuartal I tahun ini sebanyak 265.971 atau naik 46,83% dari produksi kuartal pertama 2008. Selama 2008, produksi bauksit Antam mencapai 1,15 juta ton.
"Tahun ini berat dan masih di bawah target karena memang permintaannya belum pulih."

Produksi bauksit yang turun akibat permintaan pembelian dari negara tujuan ekspor, terutama dari China dan Jepang seiring dengan krisis ekonomi global yang berpengaruh terhadap penundaan beberapa proyek di beberapa negara.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengalokasikan dana US$ 40 juta atau setara Rp 400 miliar untuk pengembangan proyek tambang emas Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, Banten. Proyek tersebut digarap untuk menjamin kesinambungan produksi emas perseroan.


06.19

Berlian Laju Tanker's Theoritical Price IDR789 per Share

Thursday, 9 July 2009 11:19:44StockWatch (Jakarta) -

The Indonesia Stock Exchange (IDX) has set the theoritical price of PT Berlian Laju Tanker Tbk's shares (BLTA) at IDR789 per unit, IDX acting head of stock trading division, Andre Toelle, said in an announcement today.He said IDX has set the theoritical price as Berlian Laju Tanker has planned to hold a rights issue with ratio of 3:1 in a bid to raise IDR591.731 billion. He said the theoritical price has been decided after calculating the 3:1 rights issue at offering price of IDR425 per share.According to him,

Berlian Laju Tanker's share price by the end of the cum rights issue date in the regular market on July 7, 2009, was IDR910 per share, so IDX has set the theoritical price at IDR788.75 per share for reference of trading, and finally has rounded up the price to IDR789 per share.

06.16

ANTM Aneka Tambang Tbk

Antam Takes Over Cibaliung Gold Mine

Thursday, 9 July 2009 15:55:27

StockWatch (Jakarta) - State mining company PT Aneka Tambang Tbk (Antam) has finalized the acquisition of PT Cibaliung Sumber Daya, the company which operates Cibaliung gold mine in Pandeglang (Banten Province). Antam's corporate secretary Bimo Budi Satriyo said in a press release received by e-Bursa.com today (Thursday 9/7) that Antam has decided to continue the operation of Cibaliung gold mine. He said the company expects to start early production in the second half of 2010.

According to him, Cibaliung's gold production is estimated at 500 kg (16,000 toz) in 2010 and is expected to begin full production at 2,000 kg (64,300 toz) in 2011. He said Cibaliung gold mine has mining age of six years with estimated gold reserve of 12,800 kg (411,500 toz). (yan/bd)

00.44

BBRI Bank Rakyat Indonesia Tbk

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero): Bertahan karena Melayani Wong Cilik

Selasa, 07 Juli 2009 06:09

altKendati fokus melayani masyarakat kelas bawah dan pengusaha UKM, BRI tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. Itu tercermin dari NPL kredit UKM yang hanya 2,9%.


Syahdan, pada 16 Desember 1895, Raden Aria Wirjaatmadja mendirikan Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren atau Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi. Sejatinya, kala itu, cikal bakal dana yang dikelola adalah dana kas sebuah mesjid di Purwokerto, Jawa Tengah. Baru pada 1946, lembaga keuangan itu dinamai Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dalam perjalanannya, BRI sempat berhenti beroperasi akibat perang pada 1948.

Kini, BRI mampu mencatatkan kinerja keuangan yang baik. Pada kuartal I-2009, BRI mengalami pertumbuhan laba sebesar 22,02% atau menjadi Rp1,72 triliun dibanding periode sebelumnya yang Rp1,41 triliun. Menurut Sofyan Basir, dirut BRI, krisis adalah tantangan untuk meningkatkan kinerja. Kendati demikian, BRI tetap memperhitungkan kondisi krisis sehingga akan tetap selektif dalam penyaluran kreditnya.

Pencapaian ini makin menguatkan niat BRI untuk terus meningkatkan performanya. Salah satu hal yang akan dilakukan adalah dengan memperbaiki infrastruktur dan menambah jumlah gerainya. Setidaknya tahun ini BRI pasang target menambah 400 kantor dan 4.800 kantor cabang. Penambahan SDM turut dilakukan, dengan sekitar 200–300 tenaga pemasaran baru akan menjadi darah segar baru bagi BRI. Dengan prestasi demikian, BRI mampu mengukuhkan diri sebagai BUMN dengan kinerja terbaik pada kuartal I-2009 dilihat dari perolehan laba dan aset dibandingkan dengan bank-bank BUMN lain.

Sejak berdiri, BRI sudah memfokuskan diri pada pelayanan kepada masyarakat kecil, khususnya kredit kepada pengusaha kecil. Tahun ini, BRI akan terus fokus pada kredit UKM, sebab sektor ini paling tahan krisis dengan non-performing loan (NPL) sangat rendah. “BRI akan fokus ke kredit UKM minimal 80%,” kata Abdul Salam, direktur keuangan BRI. Tahun ini, kredit UKM BRI mencapai 82% dari total kredit yang disediakan, atau senilai Rp136 triliun. Kendati demikian, penyaluran kredit tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian (prudential banking) yang tercermin dalam perbaikan angka NPL gross. Pada kuartal I-2009, NPL dari kredit UKM hanya 2,9% dengan nett 0,8%. Untuk sektor korporasi, NPL menunjukkan tren menurun sekitar 3,5%.

Bank pelat merah ini memiliki jaringan hingga pelosok desa. Setidaknya, hingga akhir 2008, BRI memiliki 35 kantor cabang, 107 kantor cabang pembantu, 155 kantor kas, dan 117 BRI Unit. Secara keseluruhan, BRI memiliki 5.369 unit kerja.

Adapun total dana masyarakat (dana pihak ketiga, DPK) yang berhasil dihimpun sampai akhir 2008 mencapai Rp201,5 triliun, meningkat 21,7% dibanding DPK 2007. Hampir separo DPK BRI berasal dari tabungan (43,69%), sisanya dari giro dan deposito.

00.42

GGRM Gudang Garam Tbk

PT Djarum: Piawai Mentransformasi Bisnis

altTidak hanya berkutat di bisnis rokok, PT Djarum kini merambah bisnis properti, perbankan, dan CPO demi kelanggengan bisnis mereka.


Siapa tak kenal kiprah PT Djarum? Perusahaan rokok kretek terbesar ketiga di Indonesia ini didirikan oleh Oei Wie Gwan, mantan agen rokok Minak Djinggo, pada 21 April 1951 di Kudus. Dalam perjalanannya, Djarum menjadi perseroan terbatas (PT) pada 1983. Perusahaan yang telah memiliki 76 lokasi kerja—70 di Kudus, 3 di Pati, 1 di Rembang, dan 2 di Jepara—ini mempekerjakan sekitar 75.000 karyawan.

Perusahaan ini memproduksi jenis rokok kretek, cerutu, dan rokok putih. Produk Djarum tak hanya dijual di Indonesia, tetapi juga diekspor ke mancanegara, seperti AS, Australia, Belanda, Jerman, Spanyol, Turki, dan Malaysia. Bahkan, di negeri jiran, Malaysia, rokok putih LA Light mendapat tempat di hati para pemuda. Setidaknya, Djarum telah mencatatkan nilai ekspor hampir US$16 juta pada 2007. Di Indonesia, Djarum Black tak hanya menjadi produk, tetapi juga memiliki komunitas khusus, terutama bagi pemuda kreatif.

Menyadari bahwa bisnis kretek tak cukup menopang kelanggengan bisnisnya, Djarum pun melebarkan sayap dalam sektor properti dan perbankan.

Di sektor properti, melalui anak perusahaannya, PT Cipta Karya Bumi Indah (CKBI), Djarum membangun pusat grosir Wholesale Trade Centre (WTC) Mangga Dua Jakarta. Lalu mereka berekspansi di sektor perhotelan dengan melakukan peremajaan Hotel Indonesia dan Hotel Inna Wisata yang dilebur menjadi satu serta dilengkapi sebuah supermal yang bernama Grand Indonesia. Untuk proyek properti terbesar di Indonesia ini, Djarum harus menggelontorkan investasi hingga mencapai US$230 juta.

Adapun di sektor perbankan, PT Djarum bergabung dengan konsorsium Farallon membeli sebanyak 52% saham PT Bank Central Asia Tbk. pada Maret 2002. Melalui Alaerka Investment, Hartono bersaudara menguasai 10% kepemilikan saham Farindo.

Kiprah teranyarnya, Djarum tengah menjajaki bisnis kelapa sawit (CPO) PT Hartono Plantations Indonesia di Kalimantan dan Sumatera. Djarum memasang target minimal 100.000 hektare hingga akhir 2009 dan akan terus meningkat menjadi 500.000 hektare pada 2011. Untuk bisnis ini, Djarum harus merogoh kocek investasi sebesar Rp15 triliun dengan asumsi rata-rata nilai investasi kebun sawit tersebut seharga Rp30–40 juta per hektare. Tidak berhenti sampai di situ, perseroan juga tengah merencanakan pembangunan sejumlah kilang pengolahan CPO.

Berbagai kiprah bisnisnya, telah menempatkan Budi dan Michael Hartono sebagai orang kedua dan ketiga terkaya di Indonesia versi Forbes Asia. Kekayaan Robert Budi Hartono mencapai US$1,72 miliar (Rp19,03 triliun), anjlok dari posisi tahun sebelumnya yang mencapai US$3,14 miliar (Rp34,7 triliun). Adapun kekayaan sang abang, Michael Bambang Hartono, senilai US$1,68 miliar (Rp18,57 triliun), turun drastis dari US$3,08 miliar (Rp34,05 triliun).

00.39

TLKM Telekomunikasi Indonesia Tbk

PT Telkom Tbk.: Transformasi Perusahaan “Halo-Halo”

altPT Telkom kini tengah berupaya untuk mewujudkan visinya menjadi perusahaan InfoComm terkemuka di kawasan Asia Pasifik.

Persaingan bisnis dan industri dunia telekomunikasi yang ketat dan perubahan yang begitu cepat menuntut kesigapan dan keandalan Telkom dalam menjawab keinginan pelanggan. Apalagi gaya hidup masyarakat terus berubah. Masyarakat dengan tingkat mobilitas yang tinggi kini lebih suka menggunakan telepon selular ketimbang telepon rumah. Artinya, Telkom sudah tidak bisa lagi mengandalkan bisnis telepon rumah sebagai salah satu penyumbang pendapatan terbesar.

Terlebih lagi, sejak diberlakukannya beleid 1 April 2008, operator-operator mengalami masa yang berat, termasuk Telkom. Salah satu gejalanya adalah turunnya pendapatan dan laba secara signifikan. Pada kuartal I-2009, laba bersih Telkom anjlok 23,4% dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni dari Rp3,2 triliun menjadi hanya Rp2,5 triliun.

"Telkom mengalami penurunan laba hingga Rp1 triliun rupiah sejak turunnya tarif interkoneksi," kata Rinaldi Firmansyah, direktur utama PT Telkom Tbk., Senin (11/5) lalu di Bursa Efek Indonesia. Meski demikian, Rinaldi menganggap penurunan tersebut sebagai sebuah fase yang harus dilalui para operator.

Lebih lanjut Rinaldi mengatakan penurunan laba bagi perusahaan telekomunikasi di Indonesia tidaklah aneh. Sebab, “Kita sedang dalam tahap transformasi, mencari keseimbangan baru dalam pasar. Saya yakin operator-operator tetap bisa bertahan,” kata Rinaldi, seperti dikutip Vivanews.com. Sama seperti industri lain, kata dia, bisnis telko mengalami pasang surut pertumbuhan, termasuk laba.

Pendapatan usaha Telkom turun 2,2% ke level Rp14,7 triliun, sedangkan belanja operasionalnya melonjak 10,9% menjadi Rp9,4 triliun. Turunnya pendapatan itu karena masyarakat Indonesia sudah jarang memakai layanan telepon tetap, yang membuat pendapatan dari lini bisnis itu turun 17% hingga tinggal Rp2,1 triliun. “Gaya hidup masyarakat yang berubah, membuat mereka lebih memilih berkomunikasi menggunakan telepon selular,” jelas Rinaldi.

Adapun pendapatan dari interkoneksi anjlok 15% menjadi Rp1,9 triliun, serta layanan data, internet, dan jasa teknologi informasi turun 6% ke Rp3,7 triliun. Sementara itu, pendapatan dari layanan jaringan (networking) justru naik 20%.

Sejatinya, penurunan pendapatan ini sudah diduga jauh-jauh hari. Itu sebabnya, sejak beberapa tahun yang lalu, perusahaan yang berdiri pada 1882 ini telah melakukan transformasi bisnis dengan program Infusion 2008.

Infusion 2008 merupakan suatu program untuk mengantarkan transformasi sistem bisnis perusahaan berbasis teknologi informasi (TI) menuju World Class Service Company. Guna melaksanakan program ini, Telkom menganggarkan belanja modalnya sebesar Rp92,5 miliar pada 2006. Telkom kini tengah berupaya mewujudkan visinya menjadi perusahaan penyelenggara informasi dan telekomunikasi (InfoComm) serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap (full service and network provider) yang terbesar di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.